Dunia

Kisah Seorang Tentara Anak dari Sri Lanka

Perang sipil di Sri Lanka membuat anak-anak terpaksa kehilangan masa kecilnya.

Minggu, 25 Oktober 2009, 16:59 WIB
Elin Yunita Kristanti, Shinta Eka Puspasari
Rakyat Sri Lanka rayakan kemenangan atas kelompok separatis Macan Tamil (AP Photo)

VIVAnews - Masa kanak-kanak Vinojan berakhir ketika perang sipil di Sri Lanka berkobar. Dia terpaksa bergabung dengan kelompok pemberontak Macan Tamil untuk menyelamatkan kakaknya dari wajib militer pemberontak.

Saat pemberontak menghadapi pertempuran terakhir, Mei lalu, Vinojan telah menjelma menjadi petarung tangguh dan terpaksa turut berjuang menghadapi militer Sri Lanka. Remaja 17 tahun ini kini mendambakan kehidupan normal seperti anak-anak lainnya.

"Kami semua ingin sekolah," kata Vinojan.

Vinojan terpaksa bergabung dengan pejuang pemberontak Macan Tamil pada 2007 untuk menggantikan kakaknya yang baru berusia 18 tahun. Keluarganya sempat menghindari panggilan Macan Tamil tersebut dengan bersembunyi di hutan.

Selama melarikan diri, ayah Vinojan tidak dapat bekerja dan tiga saudara Vinojan tidak bisa pergi sekolah. Maka Vinojan menyerahkan diri kepada Macan Tamil untuk menggantikan kakaknya.

Mulanya, Vinojan hanya bertugas mengantar makanan kepada pemberontak hingga akhirnya ditangkap saat keluarganya memutuskan melarikan diri pada awal tahun ini. Dia mengaku tidak berteriak saat ditangkap agar keluarganya dapat pergi dengan aman.

Para pemberontak mengikat Vinojan dan mencambukinya dengan ranting palem. Kemudian dia dilatih selama sepuluh hari sebelum mengirim Vinojan dan anak-anak lain ke garis depan.

"Kami semua ketakutan dan selalu ingin mundur. Saya tidak pernah mengarahkan tembakan ke siapa pun, saya selalu menembak secara acak," kata Vinojan.

Setelah lima hari berperang, Vinojan kabur dan bersembunyi bersama sebuah keluarga. Dia kembali tertangkap dan segera dikirim bertempur.

Para pemberontak, kata Vinojan, selalu menakut-nakuti siapa pun yang berusaha melarikan diri. "Salah satu teman saya ditutup matanya, diperintahkan berlutut, dan ditembak di hadapan kami," kata Vinojan.

Akhirnya pada 20 April lalu, tentara menyerbu Tamil dan Vinojan bergabung dengan puluhan ribu orang melarikan diri ke wilayah pemerintah dengan menyeberangi sebuah danau kecil. Vinojan berhasil bertemu kembali dengan keluarganya dengan bantuan Badan Anak-anak Perserikatan Bangsa-bangsa (UNICEF).

Sebelum ikut berperang, Vinojan bercita-cita menjadi pegawai negeri. "Namun kini, saya merasa cukup menjadi warga biasa saja," kata dia.

Sekitar 570 anak-anak, beberapa masih berusia 13 tahun, berada di antara sepuluh ribu tahanan yang telah dikirim ke kamp rehabilitasi di seluruh Sri Lanka sejak Mei lalu. Pemerintah berharap anak-anak tersebut dapat kembali menjalani kehidupan biasa.

"Mereka sehari-hari menghadapi bahaya, diambil dari keluarganya, dan kehilangan masa kecil," kata penanggung jawab kamp-kamp tersebut, Mayor Jenderal Daya Ratnayake.

Tentara anak-anak tersebut menyatakan ingin kembali bertemu keluarga masing-masing. Namun sebagian besar telah kehilangan sanak atau belum menemukan familinya. Sementara itu, pemerintah berupaya keras agar anak-anak itu tidak kembali mengangkat senjata.

Di pusat rehabilitasi Ambepussa, Vinojan bersama 80 anak-anak dan 32 orang dewasa diajari bahasa Inggris dan bahasa kelompok etnis Sri Lanka, Singhal. Mereka juga diberi keterampilan mengolah besi, menjahit, memasak, dan pertukangan.Pengelola kamp, Mayor Herman Fernando mengatakan berusaha mendaftarkan anak-anak di Ambepussa ke sekolah terdekat.

(AP)

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ