VIVAnews - Banjir bandang menewaskan sedikitnya 31 orang di Istanbul dan sekitarnya, Rabu 9 September 2009 waktu setempat. Tujuh dari seluruh korban merupakan perempuan pekerja pabrik tekstil yang hanyut terbawa arus di kawasan Bagcilar. Banjir terjadi akibat curah hujan yang mencapai titik tertinggi selama 80 tahun terakhir.
"Sebanyak 26 orang tewas di Istanbul dan lima orang meninggal di sekitar kota. Sembilan orang di kota dinyatakan hilang," kata Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan seperti dikutip harian The New York Times edisi Kamis, 10 September 2009.
Beberapa jam setelah hujan, ketinggian air terus meningkat dengan cepat, membanjiri dataran rendah kota dan jalan raya utama yang menghubungkan Istanbul dengan bandara. Kawasan bisnis Ikitelli juga tenggelam.
"Badan penanggulangan bencana mengerahkan dua helikopter dan 400 pekerja yang dilengkapi peralatan berat untuk mengatasi dampak banjir," kata Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Veysel Eroglu.
Pengemudi yang terjebak di tengah hujan lebat mengatakan air bah cukup kuat untuk mendorong truk dari jalanan. Stasiun televisi menayangkan video yang menunjukkan orang-orang berlarian dan memanjat ke atas kendaraan untuk menghindari air.
Hujan lebih deras diperkirakan akan terjadi kembali di barat laut Turki pada Jumat dan Sabtu esok.
Pengamat menyatakan tingginya angka kematian disebabkan kurangnya infrastruktur di dataran rendah Istanbul. Miktad Kadioglu dari Departemen Teknik Meteorologi di Universitas Teknik Istanbul mengatakan pemerintah belum membuat pemetaan resiko banjir.
"Kami dapat membuat rencana untuk memprediksi curah hujan dan membuat konstruksi yang dapat mencegah banjir berdasarkan data selama 30 tahun terakhir, namun ini belum dipertimbangkan," kata Kadiogllu.
Sekitar 15 juta orang tinggal di Istanbul, yang kerap diterpa bencana alam. Kota ini tumbuh dengan pesat dalam 50 tahun terakhir, menyebabkan pembangunan pemukiman ilegal di kawasan suburban.