Dunia
Robert Burns

Perang Tak Berujung di Afganistan

AS ingin menambah kekuatan militer di Afganistan. Namun tak jelas sampai kapan AS bertahan

Kamis, 10 September 2009, 12:58 WIB
Helikopter militer AS Chinook saat mendarat di Afganistan (AP Photo/Rafiq Maqbool)

VIVAnews - Presiden Barack Obama tengah menimbang-nimbang untuk meningkatkan keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam kampanye militer di Afganistan dengan mengerahkan ribuan tentara baru. Masalahnya, pemerintah AS belum menjawab pertanyaan berikut yang sangat mempengaruhi sukses tidaknya mengatasi krisis di Afganistan: Sampai kapan kampanye militer ini berlangsung?

Menteri Pertahanan Robert Gates dan para para pejabat tinggi di Pentagon ingin sekali menunjukkan kemajuan yang nyata dalam memerangi para pemberontak selama 12 hingga 18 bulan mendatang demi memperkuat dukungan publik atas perang ini. Namun, mereka tidak bisa memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan utama, yaitu memberantas jaringan teroris al-Qaida dan milisi Taliban - baik di Afganistan maupun di Pakistan.

Alasan belum jelasnya target itu sederhana saja: Ini bukanlah konflik konvensional, di mana satu pihak bisa langsung menancapkan bendera dan menyatakan menang. Bahkan, perang ini pun bukan sekadar masalah militer.

AS saat ini justru mengemban kampanye anti-pemberontakan yang bersifat kompleks dan sulit mendefinisikan bagian akhirnya. Upaya yang digalang AS untuk menstabilkan Afganistan terbentur oleh rumitnya masalah politik, ekonomi, sosial dan keamanan di Asia Selatan, yang menurut para pakar butuh waktu puluhan tahun untuk mengatasinya sekaligus.

Bila Panglima Pasukan AS di Afganistan, Jenderal Stanley McChrystal, berharap tambahan pasukan dalam beberapa pekan mendatang, Presiden Obama harus memperhitungkan tidak saja faktor anggaran dan nyawa, namun juga faktor kebijakan - dan dukungan politik - dalam mengantisipasi konflik yang tak berujung.    
Pasalnya, makin banyak politisi di Kongres yang merasa skeptis setelah menyaksikan kucuran anggaran yang mengalir deras untuk membiayai kampanye di Irak selama bertahun-tahun.

Selama kepresidenan George W. Bush, yang lebih terfokus pada Irak, publik tidak begitu memperhatikan jalannya pertempuran di Afganistan. Kini, dengan meluasnya komitmen AS, bertambahnya korban jiwa dan memburuknya keamanan di Afganistan, opini publik kini menunjukkan sentimen yang kurang baik.

Perang di Afganistan sudah berlangsung hampir selama delapan tahun dan tekanan kepada pasukan AS dan sekutu-sekutunya kian meningkat. Pemulihan kekuatan Taliban mendapat dukungan di sejumlah wilayah di Afganistan. Selain itu, prospek bagi stabilitas politik tengah terbentur oleh kredibilitas pemilihan presiden akhir Agustus lalu, yang tampaknya tercemar oleh kecurangan.

Publik Amerika kini menunjukkan tanda-tanda lelah dengan perang. Mereka sudah memilih presiden yang telah berjanji akan mengakhiri perang di Irak, yang kemudian justru mengerahkan 21.000 tentara tambahan ke Afganistan.

Sejumlah jajak pendapat menunjukkan turunnya dukungan bagi perang di Afganistan. Bahkan, keraguan bahwa AS bakal memenangkan perang itu kian meningkat, apalagi jumlah kematian tentara AS di Afganistan Agustus lalu mencapai rekor tertinggi.

Jajak pendapat dari CNN, yang digelar dalam empat hari terakhir di bulan Agustus mengungkapkan bahwa hanya 42 persen responden mendukung perang, sedangkan 57 persen menentang. Padahal, dalam survei awal April lalu, 53 persen responden masih mendukung dan hanya 46 persen yang menentang. Saat itu Obama baru mengumumkan strategi baru kampanye di Afganistan. Dia juga berjanji memberi sumber daya pendukung, yang tidak disanggupi oleh pendahulunya.

Menurut sejumlah pihak, membaiknya keamanan di Irak, menyusul "gelombang" pasukan pada 2007-2008, merupakan bukti bahwa memperbanyak jumlah pasukan di Afganistan bisa menunjukkan hasil positif yang serupa.    

Namun, Ryan Crocker dalam tulisan opini di majalah Newsweek pekan lalu menilai bahwa pemerintahan Obama harus berhati-hati dalam menarik pelajaran dari Irak.
   
"Di Irak, tidak ada konflik internal brutal yang selalu terjadi. Namun, di Afganistan, konflik itu sering berlangsung," tulis Crocker, yang dikirim ke Kabul untuk membuka kembali Kedutaan Besar AS pasca jatuhnya rezim Taliban dan pernah menjadi duta besar di Baghdad, Irak. 
 
Kesabaran rakyat Afganistan atas AS tampaknya kian menipis. Ashraf Haidari, konselor politik dari Kedutaan Besar Afganistan di Washington DC Senin lalu, 4 September 2009, menulis surat kepada editor surat kabar The Washington Post bahwa AS dan mitra-mitranya "belum berkomitmen secara serius" atas masa depan Afganistan. 

Keluhan itu juga diterima oleh Laksamana Mike Mullen, Ketua Kepala Staf Gabungan Militer AS, baru-baru ini. Dalam artikel yang dia tulis di jurnal Joint Forces Quarterly, yang diterbitkan oleh National Defense University, Mullen mengaku sering ditanya oleh para koleganya dari Afganistan dan Pakistan mengenai komitmen AS untuk terus mendukung mereka. 

"Saya bilang ke mereka, kami akan terus mendukung," tulis Mullen. Dia memang tidak merinci jangka waktu, namun komitmen jangka panjang yang diutarakan Mullen membuat kaget Bing West - seorang pensiunan Marinir yang kini menjadi penulis buku dan baru saja mengunjungi pasukan Amerika di Afganistan.
   
"Bila [komitmen] itu yang dia maksud, maka kita akan menempatkan pasukan Amerika di Afganistan, seperti saat ini, selama 10 atau 20 tahun mendatang," kata West dalam suatu wawancara melalui telepon. Menurut West, Mullen dan para pimpinan senior AS belum memberi penilaian realistis atas langkah-langkah yang dilakukan untuk berhasil di Afganistan.

George W. Bush dulu dikritik para politisi Demokrat di Kongres karena tidak memberi jadwal yang jelas untuk memulangkan pasukan dari Irak. Namun, hingga kini, para politisi dari partai yang mendukung Obama itu tidak menunjukkan kengototan yang sama atas konflik di Afganistan yang tak kunjung berakhir.

Saat Gates baru-baru ini ditanya berapa lama pasukan Amerika terus bertempur di Afganistan, dia tidak memberi jawaban yang jelas, "Terlalu banyak faktor untuk diprediksi." Saat didesak lebih lanjut, Gates mengaku bahwa peran non-militer Amerika di Afganistan "kemungkinan besar bisa berlangsung selama beberapa dekade."

"Kami ingin memberi mereka kapasitas untuk melindungi keamanan mereka sendiri dan juga keamanan negara-negara lain di penjuru dunia dari ancaman yang berasal dari Afganistan," kata Gates dalam wawancaran dengan stasiun televisi al-Jazeera. "Baru sesudah itu kami pergi," lanjut Gates.
  

Robert Burns adalah wartawan spesialis keamanan dan isu militer AS di kantor berita Associated Press sejak 1990. Artikel ini berasal dari kantor berita Associated Press dengan judul "Administration Weighs Afghan Options"


• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ