VIVAnews - Pasukan khusus (Komando) Angkatan Darat Inggris di Afganistan berhasil membebaskan Stephen Farrell, seorang wartawan untuk surat kabar The New York Times, Rabu dini hari 9 September 2009 waktu setempat. Namun, aksi pembebasan itu menewaskan seorang prajurit dan penerjemah Farrell, Sultan Munadi.
Farrell dan penerjemahnya disandera milisi Taliban sejak Sabtu pekan lalu, 5 September 2009. Saat itu mereka sedang meliput lokasi serangan udara Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di provinsi Kunduz, Afghanistan. Hampir 90 orang, sebagian di antaranya diduga merupakan warga sipil, tewas atau terluka dalam serangan ini.
Juru bicara pemerintah Kunduz, Mohammad Sami Yowar mengatakan pasukan Inggris tiba di rumah tempat Farrell ditahan dengan helikopter pada Rabu pagi. Militan dan militer lalu terlibat dalam adu senjata.
"Seorang pemimpin Taliban, pemilik rumah, dan seorang perempuan tewas, sementara Munadi terbunuh di tengah pertempuran," kata Yowar.
Farrell mengatakan Munadi maju sambil berteriak 'Jurnalis' namun jatuh di tengah desingan peluru. Farrell mengaku tidak mengetahui arah tembakan yang mengenai Munadi.
Munadi dipekerjakan New York Times sejak 2002 sebelum bekerja di stasiun radio lokal. Tahun lalu, pria 30 tahun ini mengambil kuliah pascasarjana di Jerman.
Dia kembali ke Kabul untuk berlibur bulan lalu dan setuju menjadi penerjemah lepas dan menemani Farrell ke Kunduz. Munadi telah menikah dan memiliki dua putra.
Juru bicara militer Amerika Serikat (AS) Letnan Kolonel Christine Sidenstricker mengonfirmasi operasi yang dilakukan dengan kerja sama NATO dan tentara Afghanistan ini. Namun dia tidak memberi penjelasan lebih lanjut.
Farrell merupakan jurnalis New York Times kedua yang diculik di Afghanistan selama satu tahun ini. Sebelumnya, wartawan peraih Pulitzer, David Rohde dan koleganya, Tahir Ludin diculik pada 10 November 2008. Mereka berhasil melarikan diri pada Juni lalu. (AP)