Dunia
Perang di Afganistan

AS-NATO Bentuk Tim Penyelidik Serangan Udara

Panglima Koalisi menduga bahwa sebagian besar korban serangan NATO adalah warga sipil

Rabu, 9 September 2009, 12:56 WIB
Renne R.A Kawilarang, Shinta Eka Puspasari
Seorang bocah 7 tahun luka parah akibat bom pasukan Koalisi di Afganistan (AP Photo/Fraidoon Pooyaa)

VIVAnews - Panglima pasukan koalisi Amerika Serikat (AS) Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Afganistan, Jenderal Stanley McChrystal, membentuk tim untuk menyelidiki dampak serangan udara NATO pekan lalu.

Tim penyelidik dipimpin oleh Wakil Panglima Pasukan NATO, Mayor Jenderal C. S. Sullivan. Tim itu dibentuk untuk mengusut dugaan bahwa sebagian besar korban serangan udara NATO atas pemberontak Taliban, yang menewaskan 90 orang, adalah warga sipil.

Laman stasiun televisi CNN memberitakan tim penyelidik akan beranggotakan pejabat tinggi Angkatan Udara AS, perwakilan Jerman, dan seorang penasehat hukum. Tim ini akan berkoordinasi dengan tim penyelidik Afghanistan yang telah ditunjuk presiden Hamid Karzai. Penyelidikan ini diperkirakan akan memakan waktu berminggu-minggu.

Akhir pekan lalu, McChrystal telah mengunjungi lokasi kejadian di provinsi Kunduz. McChrystal menyimpulkan bahwa warga sipil telah terluka atau tewas dalam serangan tersebut. "Kita harus jujur kepada warga Afghanistan dan dunia, meski kita belum mengetahui seluruh fakta karena penyelidikan belum selesai," tutur McChrystal

NATO mengerahkan kekuatan udara untuk mengebom dua tangki bahan bakar yang dibajak militan Taliban pada Jumat (4/9) pekan lalu. Jumlah korban tewas belum dapat dipastikan namun pemerintah setempat menyatakan sebagian besar korban adalah warga sipil.

Dua tangki bahan bakar dicuri pada Kamis malam oleh sekelompok pemberontak, termasuk pejuang Chechnya. Mereka sempat terlihat dekat sungai Kunduz, dekat perbatasan Tajikistan.

Kelompok pembajak ini memanggil warga setempat untuk mengosongkan tangki saat kendaraan tersebut terjebak di Sungai Kunduz. Saat itulah tentara NATO menyerang. "Kami yakin tidak ada warga sipil ketika mengebom truk tangki," kata Kapten Angkatan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) NATO, Elizabeth Mathias.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ