VIVAnews - Kanselir Jerman Angela Merkel menyerukan penyelidikan menyeluruh atas serangan udara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organisation/NATO) di provinsi Kunduz, Afghanistan yang menewaskan setidaknya 90 orang.
"Pemerintah Jerman dan saya secara pribadi berharap tim penyelidik NATO segera menelusuri serangan ini dan memastikan tidak ada warga sipil yang menjadi korban," kata Merkel kepada wartawan di Berlin, Minggu, 6 September 2009, seperti dikutip laman stasiun televisi CNN.
NATO mengerahkan pasukan udara untuk mengebom dua tangki bahan bakar yang dibajak militan Taliban pada Jumat (4/9) pekan lalu. Jumlah korban tewas belum dapat dipastikan namun pemerintah setempat menyatakan sebagian besar korban adalah warga sipil.
Dua tangki bahan bakar dicuri pada Kamis malam oleh sekelompok pemberontak termasuk pejuang Chechnya. Mereka sempat terlihat dekat sungai Kunduz, dekat perbatasan Tajikistan.
Kelompok pembajak ini memanggil warga setempat untuk mengosongkan tangki saat kendaraan tersebut terjebak di Sungai Kunduz. Saat itulah tentara NATO menyerang. "Kami yakin tidak ada warga sipil ketika mengebom truk tangki," kata Kapten Angkatan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) NATO, Elizabeth Mathias.
Namun komandan AS di Afghanistan, Jenderal Stanley McChrystal memastikan bahwa terdapat korban warga sipil. "Kita harus jujur kepada warga Afghanistan dan dunia, meski kita belum mengetahui seluruh fakta karena penyelidikan belum selesai," tutur McChrystal setelah mengunjungi lokasi ledakan.