VIVAnews - Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, Selasa pekan depan berencana memberikan pidato di hadapan para siswa sekolah di kota Arlington, negara bagian Virginia. Namun niatan Obama itu ditentang keras oleh para orang tua siswa setempat, yang rata-rata berasal dari kaum konservatif.
Laman harian The New York Times, Kamis 3 September 2009, mengungkapkan bahwa para orang tua di sana menganggap Obama berusaha mengindoktrinasi anak-anak mereka dengan ide-ide sosialis. Untuk itu, mereka meminta pihak sekolah untuk mencegah para murid mendengarkan pidato presiden berkulit hitam pertama di AS.
Padahal, Obama hanya berniat meminta para siswa untuk bekerja keras dan tetap bersekolah. Pidato tersebut akan ditayangkan langsung dalam laman Gedung Putih dan C-SPAN saat siang hari, waktu di mana setiap siswa di kelasnya masing-masing di seluruh AS bisa menyaksikannya. Sehari sebelumnya, Gedung Putih berencana merilis pidato tersebut secara online, sehingga orang tua murid bisa membacanya.
Namun, sejumlah orang tua mengaku khawatir karena pidato tersebut belum disaring dari muatan politis. Pidato itu, kata mereka, juga belum diperiksa oleh komisi pendidikan dan dewan sekolah setempat yang di bawah hukum negara, harus menyetujui kurikulum.
"Masalah yang paling mencemaskan saya adalah pidato itu tampak seperti jalur langsung dari presiden AS ke ruang-ruang kelas, ke anak-anak saya," kata Brett Curtiss, seorang sarjana teknik dari Pearland, Texas yang mengaku tidak akan membolehkan tiga anaknya pergi ke sekolah pada hari itu. "Saya tidak ingin sekolah-sekolah kami berubah menjadi semacam pergerakan sosialis," lanjutnya.
Gedung Putih sudah menjelaskan bahwa pidato tersebut akan menekankan pentingnya pendidikan dan kerja keras di sekolah, keduanya bagi individu maupun negara. Pesan tersebut tidak bersifat partisan dan tidak wajib.
"Ini bukan pidato kebijakan," kata Sandra Abrevaya, juru bicara untuk Departemen Pendidikan. "Pidato ini dirancang untuk mendorong siswa untuk tetap bersekolah. Pilihan apakah akan mempertontonkan pidato tersebut kepada para siswa sepenuhnya berada di tangan tiap sekolah. Ini benar-benar bersifat sukarela," terang Abrevaya.