Dunia

Bush Pelopori Buka Puasa di Gedung Putih

Selama delapan tahun memerintah, Bush rutin menggelar acara buka puasa bersama

Rabu, 2 September 2009, 13:46 WIB
Renne R.A Kawilarang
Dubes RI untuk AS (berpeci hitam) menghadiri Iftar di Gedung Putih, AS (AP Photo/Gerald Herbert)

VIVAnews - Baru kali inilah Barack Obama menjadi tuan rumah acara buka puasa bersama (Iftar) dengan para tokoh Muslim dan sejumlah duta besar negara sahabat di kediaman resmi presiden Amerika Serikat (AS), Gedung Putih. Namun, Obama bukanlah menjadi penggagas acara Iftar, yang kali ini berlangsung Selasa malam 1 September 2009 waktu Washington DC (Rabu pagi WIB).

Menurut laman US News and World Report, pencetus Iftar tak lain adalah George W. Bush, yang kini dikenang sebagai salah seorang presiden yang tak populer di AS. Sejak 2001 hingga 2008, Bush setiap tahun rutin menggelar acara buka puasa bersama dengan para tokoh Muslim dan para perwakilan negara-negara sahabat, termasuk Indonesia.

Tradisi yang dirintis Bush itu kemudian dilanjutkan oleh Obama. Saat berpidato di hadapan para undangan, warga non kulit putih pertama yang menjadi presiden AS itu berjanji akan melestarikan acara Iftar di Gedung Putih selama dia memimpin.

Laman harian di Uni Emirat Arab, The National, mengungkapkan bahwa sebelum kepresidenan Bush tidak ada pemimpin Amerika yang meluangkan waktu untuk menggelar acara buka puasa bersama di Gedung Putih.

Namun, sejak dekade 1990-an, pemerintah AS mulai mempererat pendekatan secara simbolis dengan umat Muslim. Selama delapan tahun kepemimpinannya, Presiden Bill Clinton tiga kali menggelar acara makan malam untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Selanjutnya, Menteri Luar Negeri di masa kepemimpinan Clinton - Madeline Albright - mulai menggelar acara buka puasa bersama pada tahun 1998. Tradisi itu dilanjutkan oleh penggantinya, Menteri Luar Negeri Colin Powell.

Ibrahim Hooper, direktur komunikasi dari lembaga American-Islamic Relations, mengungkapkan bahwa acara buka puasa bersama di Gedung Putih dalam delapan tahun terakhir telah menjadi momen penting untuk mempererat hubungan pemerintah dan mayoritas warga Amerika dengan umat Muslim.

"Acara ini bisa menjadi pernyataan publik bahwa Muslim Amerika merupakan bagian dari masyarakat di negeri ini dan Islam termasuk agama yang diakui di Amerika. Itu merupakan pesan yang positif," kata Hooper.

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ