VIVAnews - Tak mau lagi ikut terjun payung. Wajar bila Paul Lewis berkomitmen demikian, setidaknya untuk sementara waktu.
Pasalnya, nyawa pria 40 tahun itu 99,9 persen dipastikan melayang saat kedua parasut yang dia kenakan rusak dalam suatu penerjunan di langit kota Shropshire, Inggris, 14 Agustus lalu. Jadilah dia terjun bebas dari ketinggian 10.000 kaki (3.048 meter).
Namun, maut tampak masih enggan menghampiri Lewis. Padahal, saat itu dia sudah pasrah.
"Saya tidak sempat berteriak 'selamat tinggal' kepada ayah dan ibu, atau mengucapkan kata-kata terakhir. Saya cuma bisa melihat ke bawah sambil bergumam 'Tamatlah sudah'," kata Lewis kepada harian News of The World edisi Minggu 30 Agustus 2009.
"Kemudian saya menutup mata dan semuanya serba gelap," lanjut Lewis. Butuh waktu lebih dari dua pekan bagi Lewis untuk mengungkapkan sendiri peristiwa yang mengerikan itu.
Sungguh ajaib! Terjun langsung dari langit dengan ketinggian lebih dari 3.000 meter tidak membuat tubuh Lewis hancur.
Dia masih bisa bernafas, kendati sempat tidak sadarkan diri, dan hanya menderita salah urat di sekitar leher dan luka memar serta mengalami kerusakan saraf di tangan kiri. Perlahan-lahan, Lewis memulihkan diri di rumah orang tuanya di Shropshire.
Lewis bercerita bahwa peristiwa mengerikan yang berakhir dengan keajaiban itu bermula saat dia bersama dengan seorang juru kamera tengah mendokumentasikan film seorang perempuan yang pertama kali terjun payung. Mereka bertiga sama-sama terjun dari pesawat dengan ketinggian 10.000 kaki.
Sesuai prosedur, saat ketinggian mencapai 3.000 kaki (914,4 meter), mereka sudah harus membuka payung masing-masing. Malang bagi Lewis, parasutnya tidak mau terbuka.
Berusaha tidak panik, penerjun berpengalaman yang sudah 660 kali melakukan penerjunan itu selanjutnya membuka payung cadangan. Namun, parasut itu tidak terbuka dengan sempurna.
Konsekuensinya, tubuh Lewis terlilit kain dan tali parasut sambil meluncur dengan kencang ke bawah, dengan kecepatan sekitar 193km/jam. Namun, bukannya menghujam ke tanah, tubuh Lewis yang sudah tak berdaya itu terjatuh di atas genteng suatu bangunan. Bila jatuh ke tanah, hampir pasti dia tewas.
Perlu waktu hampir satu jam bagi petugas penyelamat untuk mengevakuasi Lewis. "Dia sungguh beruntung. Kalau dia melenceng tiga meter saja, pasti tubuhnya sudah menghantam tanah," kata rekan Lewis, Colin Fitzmaurice, seperti dikutip harian The Times.
Lewis pun menyadari betapa beruntungnya dia saat itu. Maka, dia kini mengaku tidak mau lagi bermain-main dengan maut.
"Saya waktu itu memang sangat mujur. Namun bila mengingat kembali peristiwa itu, maka kini saatnya untuk berhenti," kata Lewis.