VIVAnews - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan bahwa pemerintah Israel tidak ingin melakukan negosiasi untuk membahas status Yerusalem sebagai ibukota bersama Israel dan Palestina.
Saat berada di London dan bertemu dengan Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, Selasa 25 Agustus 2009, Netanyahu juga mengatakan bahwa perundingan damai apapun dengan Palestina harus merundingkan isu demiliterisasi Palestina, dan juga pendudukan ilegal Israel di Tepi Barat.
"Saya sudah menerangkan dengan jelas bahwa Yerusalem adalah ibukota berdaulat Israel dan kami tidak menerima segala pembatasan terhadap kedaulatan kami," kata Netanyahu dalam konferensi pers di London, seperti dikutip dari laman stasiun televisi al-Jazeera.
Namun, dia menambahkan, "Isu tentang pendudukan itu bagus sekali. Itu harus menjadi salah satu isu yang diselesaikan dalam negosiasi, bersama dengan penerimaan warga Palestina mengenai negara Yahudi, demiliterisasi efektif, dan kemungkinan kesepakatan damai lainnya."
Warga Palestina menginginkan agar Yerusalem Timur menjadi ibukota negara mereka di masa depan. Sedangkan Brown mengaku yakin akan ada kemajuan di Timur Tengah setelah dia bertemu dengan Netanyahu yang disebutnya sebagai pemimpin yang penuh keberanian.
"Perekonomian Palestina harus dibiarkan tumbuh sehingga saya sangat mendukung keputusan Israel untuk menghapus pos-pos penjagaan di Tepi Barat," kata Brown. "Kami juga mendiskusikan isu pendudukan Israel di Yerusalem Timur. Saya jelaskan bahwa aktivitas itu merupakan gangguan bagi solusi dua negara," lanjut Brown.
Sebelumnya, presiden Palestina Mahmoud Abbas, mengatakan bahwa penghentian konstruksi pendudukan warga Israel di Tepi Barat merupakan syarat untuk kembali melakukan perundingan damai dengan Israel. Proses perundingan berhenti sama sekali sejak Desember.