Dunia
Krisis Ekonomi Global

Menkeu: Pembelokan Ekonomi, Apakah Nyata?

Sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, yakin pemulihan ekonomi sedang berjalan.

Senin, 24 Agustus 2009, 15:53 WIB
Umi Kalsum, Agus Dwi Darmawan
Sri Mulyani Indrawati (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews - Badai krisis telah berlalu. Stabilitas ekonomi dunia saat ini sudah berada di titik balik. Menteri Keuangan Plt Menteri Perekonomian Sri Mulyani Indrawati mengakui banyak negara-negara di dunia yang pekan lalu percaya kondisi terburuk krisis ekonomi telah dilewati.
 
Permasalahannya, kata Sri Mulyani, belum ada yang tahu bagaimana bentuk pemulihan ekonomi ini. Tetapi kepercayaan bahwa ekonomi sudah bangkit, benar terjadi. Semua negara termasuk institusi percaya akan hal itu.

"Tahun ini pertumbuhan ekonomi dunia yang dikatakan kontraksi minus 1,4 persen, tahun depan sudah lebih baik jadi 2,5 persen," katanya dalam update informasi perekonomian dunia di DPR, Jakarta, Senin 24 Agustus 2009.
 
Dewan Moneter AS (FOMC) menyatakan ekonomi dunia mulai menunjukkan kondisi levelling out, pasar financial meningkat, konsumsi rumah tangga mulai membaik walau masih ada risiko pengangguran dan ketatnya kredit. Kata dia, kondisi regional juga memperlihatkan kondisi yang terus membaik dengan menguatnya pasar saham dan pasar finansial.
 
"Semua sudah mengatakan ini, untuk itu minggu depan kami para Menteri Keuangan G20 akan kembali bertemu di London untuk membicarakan pembelokan ini apakah sudah nyata," katanya.
 
Sebagai gambaran Sri Mulyani mengatakan arus modal diperkirakan akan kembali positif di tahun 2010. Namun rekaman defisit anggaran AS pada 2009 sebesar US$ 1,1 triliun menjadi risiko pembalikan arus modal ke AS.
 
Harga minyak juga masih belum menentu dan sulit diprediksi. Kisaran perkiraan pemerintah pada 2010, harga minyak masih akan ada direntang yang lebar yakni antara US$ 45 sampai US$ 120 per barel. Selain menyusul peningkatan harga komoditi global, juga diperkirakan akan membaik seiring membaiknya indikator perdagangan dunia. "Ini menjadi ancaman inflasi yang kita pertimbangkan tahun depan," katanya.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ