VIVAnews - Anak-anak sekolah di Jalur Gaza, Palestina, memulai tahun ajaran baru dengan kondisi yang memprihatinkan. Mereka terpaksa bersekolah dalam ruangan yang sudah padat dan tanpa perlengkapan yang layak.
Pasalnya, sekitar 300 bangunan sekolah rusak atau hancur akibat serangan Israel ke Gaza, akhir tahun lalu. Blokade Israel juga menyebabkan sekolah-sekolah tidak memiliki akses mendapat alat belajar dan bahan-bahan untuk memperbaiki gedung sekolah.
Laman stasiun televisi al-Jazeera memberitakan bahwa pelajar sekolah Umar Khattab terpaksa bergantian menggunakan kelas untuk belajar, Minggu 23 Agustus 2009. Alasannya, gedung sekolah masih rusak.
Kaca-kaca jendela belum diganti dan dapat mengganggu saat musim dingin tiba. Pemerintah khawatir kekurangan ini dapat memengaruhi kualitas pendidikan.
Pemerintah Gaza juga telah memutuskan untuk tidak lagi mengharuskan pelajar menggunakan seragam sekolah. Ummu Hisham, warga Gaza mengatakan keputusan ini sangat membantu, terutama menjelang Idul Fitri.
"Saya memiliki tujuh anak, bagaimana mungkin saya bisa membeli seragam yang sangat mahal? Seluruh warga Gaza menderita," kata Hisham.
Namun Menteri Pendidikan pemerintahan Hamas, Muhammad Askol optimis bahwa penduduk Palestina di Gaza mampu menghadapi rintangan dalam pendidikan. "Kami terbiasa mengatasi masalah, saya yakin saat ini kami memiliki kemampuan untuk terus maju," ujar Askol.