Dunia
Kontroversi Syariah Islam di Malaysia

Penikmat Bir Itu Menunggu Hukuman Cambuk

Kartika Sari Dewi Shukarno pasrah dengan vonis itu. Benarkah dia menjadi korban politik?

Minggu, 23 Agustus 2009, 12:50 WIB
Renne R.A Kawilarang
Kartika Sari Dewi Shukarno, Model Malaysia Kena Hukuman Cambuk (AP Photo/Mark Baker)

VIVAnews - Hukum cambuk bagi seorang perempuan di Malaysia, yang direncanakan pekan depan, telah mengundang perdebatan di kalangan publik dan media massa. Pasalnya, hukuman cambuk itu terkait kasus yang tak pernah terpikirkan oleh negara-negara Barat - bahkan di komunitas yang didominasi umat Muslim. Kasus yang melanda perempuan bernama Kartika Sari Dewi Shukarno itu adalah karena dia ketahuan minum bir.

Di sejumlah wilayah di Malaysia yang menerapkan hukum (Syariah) Islam, perempuan Muslim yang kedapatan minum minuman keras adalah kasus yang bukan main-main. Bagi umat Muslim di Malaysia, umat yang ketahuan minum alkohol dinyatakan sebagai pelanggar hukum agama dan harus diberi sanksi.

Peraturan itu tak berlaku bagi orang non-Muslim. Hukuman yang diberikan biasanya cuma menginap beberapa hari penjara atau membayar sejumlah denda. Maka, hukuman yang bakal didera Kartika itu terbilang luar biasa berat. Menurut vonis pengadilan agama di Malaysia Juli lalu, ibu dua anak berusia 32 tahun itu tak hanya harus dikurung dan membayar denda, namun juga bakal menerima enam kali pukulan rotan di punggungnya.

Kartika - yang ketahuan minum bir di suatu bar hotel di Kota Kuantan, Pahang, dalam suatu razia 11 Desember 2007 - semula mengaku tak habis pikir dengan bobot hukuman yang bakal dia terima. Namun, dia menolak mengajukan banding atas putusan pengadilan.

Bahkan, Jumat pekan lalu, perempuan yang berdomisili di Singapura itu meminta eksekusi hukum cambuk dilakukan di depan publik, agar "masyarakat tahu ketidakberesan yang sebenarnya terjadi." Permintaan itu ditolak pihak berwenang.

Kartika, yang kehilangan pekerjaan sebagai staf suatu rumah sakit dan kini menjadi model paruh-waktu, bakal menjadi perempuan pertama di Malaysia yang akan menerima hukum cambuk. Kendati waktu belum diumumkan, hukuman itu telah menjadi pergunjingan di kalangan publik, baik di Malaysia maupun di Singapura.

"Insiden seperti itu telah memberi pandangan yang salah kepada para investor asing bahwa Malaysia merupakan tempat yang tidak toleran," kata seorang pengusaha asing di Kuala Lumpur seperti yang dikutip harian Inggris, The Financial Times.

Apalagi, razia atas restoran dan bar oleh polisi agama merupakan pemandangan biasa di beberapa tempat di Malaysia, termasuk di Pahang - yang merupakan negara bagian kampung halaman Perdana Menteri Najib Razak. Kendati para polisi itu hanya mengincar umat Muslim yang kedapatan minum alkohol atau melakukan perbuatan yang dianggap maksiat, tetap saja menimbulkan keresahan bagi para turis maupun pengusaha asing.

Sejumlah pejabat di Malaysia keberatan atas pemberian hukuman cambuk kepada Kartika. Namun, pemerintah pusat pun enggan menentang pemberian hukuman itu.

Pertimbangan politik pun bisa menjadi alasan. PM Najib tampak tidak ingin mengecewakan para pemilih etnis Melayu - yang hampir semuanya Muslim - saat dukungan kepada Partai Islam Malaysia - yang menjadi oposisi bagi pemerintah - sedang meningkat.

Menurut analisis The Financial Times, pemerintah sudah tak mau lagi mengecewakan para pemilih etnis Melayu, yang marah akibat kebijakan pemerintah yang tak lagi memberi perlakuan khusus (special priviledge) kepada etnis Melayu dalam bidang ekonomi demi meningkatkan daya tarik bagi para investor asing.

Di lain pihak, kubu oposisi pimpinan Partai Keadilan pimpinan Anwar Ibrahim juga tampak tak antusias mengkritisi hukuman bagi Kartika. Mereka tidak ingin membuat gusar PAS - yang menjadi mitra aliansi strategis dalam melawan kubu Barisan Nasional pimpinan UMNO yang tengah berkuasa.

Faris Noor, pengamat politik dari Rajaratnam School of International Studies di Singapura, seperti dikutip The Wall Street Journal, menilai bahwa hukum cambuk bagi Kartika merupakan "suatu pertanda dari apa yang akan terjadi" saat Partai UMNO pimpinan Razak kini terkesan lebih Islami ketimbang PAS dalam meraih simpati bagi para pemilih Melayu.

Dengan demikian, kecil kemungkinan adanya dukungan yang berarti, baik politik maupun moral, bagi Kartika di Malaysia. Cambuk rotan pun menanti.

• VIVAnews
Rating
Komentar
chemie
28/05/2010
Setuju! Penerapan hukum syari'at Islam itu bukannya kejam, tapi tegas! Ini juga jadi peringatan bagi semua umat muslim kalo ajaran agama itu gak boleh dianggap enteng. Coba diinget2 berapa banyak orang ngaku muslim tapi malah hobinya nglanggar ajaran agam
Balas   • Laporkan
bays Rizt
06/04/2010
sukurin lu lebok salah sendiri.................. lagian minum gak liat2 apa yg diminum................
Balas   • Laporkan
Moosa
29/03/2010
makanya jangan mabok mulu.....dah sabet aja biar jadi bahan buat orng lain biar tidak ikut-ikutn mabok
Balas   • Laporkan
sukurin lu............................ makanya mikir lagi sebelum memilih..............
Balas   • Laporkan
uton
17/01/2010
coba di indonesia ada hukum seperti ini...
Balas   • Laporkan
hamba Alloh
01/12/2009
biar aja yang ngga setuju denga ketegasan hukum itu..suatu saat juga dicambuk..pake cambuk api di hari pembalasan nanti..naudzubiilah...jadi taubatlah dari seluruh perkara maksiat..dan yakinlah bahwa Alloh maha pengampun..
Balas   • Laporkan
budiono
23/11/2009
makanya jadi orang sadarlah srbagai kodratnya,kalau perempuan suka minum2 orang menilai sebagai wanita murahan yg hidupnya nggak jelas
Balas   • Laporkan
yumantoko
20/10/2009
melanggar hukum ya dihukum
Balas   • Laporkan
bujang
09/10/2009
hukum syariat, tidak adil yah... nyakiti umat sendiri, yang non muslim langga tidak apa2, kasihan deh islam..
Balas   • Laporkan
Dewan eksekutor
08/10/2009
viva news jangan macam2, stigmatisasi, menggiring opini publik semacam ini adalah cara yang amat sangat tdk propesional!!! Ingat, berita2 anda selalu berada dalam pantauan kami.
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ