Dunia

Oposisi Israel Tolak Pembebasan Barghouti

Barghouti, narapidana seumur hidup di Israel, terpilih jadi anggota Komite Pusat Fatah.

Rabu, 12 Agustus 2009, 18:12 WIB
Umi Kalsum, Shinta Eka Puspasari
Pemimpin Partai Kadima, Tzipi Livni, menyambut pendukungnya usai Pemilu Israel (AP Photo/Tara Todras-Whitehill)

VIVAnews - Pemimpin oposisi Israel Tzipi Livni meminta pemerintah tidak membebaskan pemimpin Fatah, Marwan Barghouti. Barghouti, narapidana seumur hidup di Israel, terpilih menjadi anggota Komite Pusat Fatah dalam pemungutan suara, Selasa 11 Agustus 2009.

Hasil pemungutan suara ini memicu permintaan pembebasan Barghouti. Barghouthi dipenjara pada 2004 karena dinyatakan bersalah merancang pembunuhan lima warga Israel.

"Barghouti disidang di Israel dan dihukum penjara seumur hidup. Dia terbukti membunuh," kata Livni dalam wawancara dengan Radio Army seperti dikutip laman harian The Jerusalem Post.

Livni mengatakan kemenangan Barghouti dalam Kongres Fatah tidak secara otomatis membuat Barghouti dapat dibebaskan. Barghouthi merupakan tokoh populer dalam Fatah. Dia pernah dianggap sebagai penerus Yasser Arafat.

Pria 50 tahun ini ditangkap Israel pada 2002. Dua tahun kemudian dia divonis hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan di Israel. Namun Barghouthi tetap populer di kalangan rakyat Palestina di Tepi Barat. Kursi Barghouti dalam Komite diperkirakan akan dibiarkan kosong.

Faksi Fatah menutup Kongres mereka di Bethlehem, Palestina pada Rabu (12/8). Dalam Kongres pertama setelah jeda 20 tahun ini, sekitar 2.000-an delegasi memilih pemimpin baru Fatah. Sebagian besar anggota Komite Pusat dan Dewan Revolusi Fatah baru berasal dari kalangan muda.

Para pemimpin baru ini diperkirakan akan lebih pragmatis daripada pendahulu mereka. Namun para tetua Fatah berharap proses ini akan meningkatkan popularitas Fatah, memperkuat posisi dalam pembicaraan dengan Israel, dan rekonsiliasi dengan rival utama, Hamas.

Sebanyak 14 dari 18 orang yang terpilih menduduki kursi Komite Pusat Fatah merupakan wajah baru. Negosiator veteran Saeb Erekat dan dua mantan kepala keamanan Otoritas Palestina, Jibril Rajoub dan Muhammad Dahlan berada di antara mereka.

"Ini merupakan hasil kompetisi yang jujur," kata Rajoub seperti ditulis harian New York Times edisi Rabu, 12 Agustus 2009.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ