VIVAnews - Perhimpunan Negara Asia Tenggara (ASEAN) baru akan membuat sikap terbaru atas anggotanya, Myanmar, mengenai pengadilan atas pejuang demokrasi Aung San Suu Kyi. Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 1991 itu hari ini akan menghadapi vonis dari pengadilan terkait dakwaan melanggaran peraturan tahanan rumah.
Demikian ungkap juru bicara Departemen Luar Negeri Indonesia, Teuku Faizasyah. "Posisi ASEAN mengenai Suu Kyi akan dibahas dalam rangkaian pertemuan ASEAN," kata Faizasyah dalam jumpa pers mingguan di Jakarta, Jumat 3 Juni 2009.
"Kalau memang vonis dikeluarkan dalam waktu dekat, kita akan gunakan pertemuan pertama ASEAN di Pattaya, Thailand, 17-23 Juli," lanjut Faizasyah. Dalam rangkaian pertemuan itu akan ada forum ASEAN Ministerial Meeting ke-42, ASEAN Post Ministerial Conference.
Selain itu berlanjut dengan ASEAN Regional Forum, yang akan dihadiri para pejabat sejumlah negara mitra, termasuk Menteri Luar Negeri Hillary Clinton dari Amerika Serikat.
"Rangkaian pertemuan itu bisa diguanakan untuk membahas secara khusus posisi bersama kita," kata Faizasyah.
Dia pun membantah anggapan bahwa selama ini sikap ASEAN atas Myanmar tidak tegas dan seruannya tidak mempan dalam mempengaruhi junta untuk tidak terus-menerus menindak kelompok oposisi pro-demokrasi pimpinan Suu Kyi.
"Sikap ASEAN sudah semakin jelas, semakian tegas, belakangan ini malah lebih keras daripada Uni Eropa. Thailand sebagai Ketua ASEAN sudah mendesak agar Suu Kyi dibebaskan," kata Faizasyah.
Pemerintah Indonesia sendiri memahami masalah di Myanmar. "Sama seperti indonesia, Myanmar multietnik, mendapatkan kemerdekaan dengan angkatan bersenjata. Dengan sejarah yang sama, kita lebih terbuka dalam menyampaikan keprihatinan di sana , termasuk soal Suu Kyi," kata Faizasyah.
Dia berharap vonis pengadilan yang akan diterima Suu Kyi "tidak ada yang terburuk."
Indonesia juga menganggap positif kunjungan Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, ke Myanmar hari ini. Menurut Faizasyah, Indonesia berharap ada introspeksi ke dalam dari junta Myanmar untuk kemudian mengambil langkah dalam merespon keprihatinan dari luar atas perkembangan terakhir Suu Kyi.
email: renne.editor@vivanews.com
• VIVAnews