VIVAnews - Setelah anjlok lebih dari dua persen, harga minyak mentah kini menguat hingga di atas US$70 per barel. Kenaikan terpicu oleh perkiraan penurunan cadangan minyak mentah di Amerika Serikat (AS). Penurunan itu berarti permintaan terhadap minyak kemungkinan sudah meningkat.
Dalam transaksi elektronik di bursa New York Mercantile Exchange, Rabu siang 1 Juli 2009 waktu Singapura, harga minyak mentah untuk pengiriman Agustus naik 74 sen menjadi US$70,63 per barel. Kemarin, harga minyak jatuh US$1,60 ke posisi US$69,89 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent di bursa ICE London meningkat 80 persen ke posisi US$70,10 per barel.
Menurut laporan dari lembaga survei American Petroleum Institute (API), stok minyak mentah di AS pekan lalu diperkirakan anjlok sebesar 6,8 juta barel. Namun, investor menantikan laporan resmi dari Departemen Energi AS Rabu siang waktu setempat (Kamis dini hari WIB).
Sedangkan analis dari lembaga survei Platts memperkirakan pemerintah akan mengeluarkan angka yang menunjukkan bahwa stok minyak mentah turun 2,2 juta barel. Kemarin, harga minyak mentah jatuh setelah lembaga survei Conference Board di New York mengatakan bahwa indeks kepercayaan konsumen jatuh pada Juni setelah menguat tiga bulan lalu. (AP)