VIVAnews - Presiden Barack Obama memperingatkan bahwa Irak akan menghadapi hari-hari sulit pasca penarikan pasukan Amerika Serikat, Selasa 30 Juni 2009. Obama menyebut penyerahan keamanan kepada militer Irak merupakan sebuah tonggak, tetapi pemimpin Irak akan menghadapi pilihan sulit terkait politik dan keamanan.
Kemarin, saat rakyat Irak merayakan penarikan mundur pasukan AS dari semua kota, ledakan bom terjadi di kotak Kirkuk di utara Irak, dan menewaskan sedikitnya 27 orang.
Dalam dua pekan terakhir, sekitar 250 orang tewas akibat serangkaian serangan. Pasukan AS dan Irak sudah diperingatkan agar waspada menghadapi kemungkinan serangan dalam masa-masa penarikan mundur pasukan AS.
Selagi rakyat Irak merayakan tanggal 30 Juni sebagai "Hari Kedaulatan Nasional", seperti dikutip dari laman stasiun televisi BBC, Obama mengatakan, "Masa depan rakyat Irak kini berada di tangan mereka sendiri."
Obama memprediksi akan terjadi aksi kekerasan lebih banyak lagi, seperti pengeboman yang terjadi di Kirkuk. Obama menambahkan, "Akan ada pihak-pihak yang menguji kekuatan pasukan Irak dan memecah belah rakyat Iran melalui pengeboman dan pembunuhan warga sipil."
"Saya yakin orang-orang semacam itu akan gagal. Transisi hari ini merupakan bukti bahwa mereka yang mencoba membawa Irak kepada perpecahan dan perang sipil berada di sisi yang keliru dalam sejarah," lanjut Obama.
Penarikan mundur pasukan AS terjadi dua tahun setelah penambahan pasukan ekstra antara Februari dan Juni 2007, sehingga jumlah prajurit AS di Irak mencapai sekitar 170.000 personel.