VIVAnews - Naiknya harga minyak mentah membuat investor di lantai bursa saham Wall Street, New York, turut bergairah. Dana besar pun mengalir mendongkrak harga saham energi, industri, dam bahan bangunan di penghujung transaksi triwulan kedua tahun ini.
Pada akhir perdagangan Senin sore waktu setempat (Selasa dini hari WIB) indeks harga saham industri Dow Jones naik 90,99 poin (1,1 persen) menjadi 8.529,38. Begitu pula dengan indeks harga saham indikator Standard & Poor's 500, naik 8,33 poin (0,9 persen) menjadi 927,23. Sedangkan indeks harga saham teknologi Nasdaq naik 5,84 poin (0,3 persen) menjadi 1.844,06.
Kenaikan terjadi setelah investor mengetahui bahwa harga minyak mentah light sweet di bursa NYMEX New York untuk pasokan Agustus naik US$2,33//barel. Harga minyak naik setelah China menyatakan akan menambah cadangan minyak dan pemberontak di Nigeria menutup sebagian kilang lepas pantai.
Di Amerika sendiri tidak ada data ekonomi domestik yang bisa mempengaruhi transaksi. Lagipula perdagangan saham pekan ini berkurang sehari akibat Libur Hari Kemerdekaan AS Jumat mendatang, 4 Juli 2009.
Namun, sehari jelang hari libur, pemerintah akan memaparkan laporan tingkat pengangguran bulanan - yang akan menjadi perhatian besar bagi investor. Pekan ini pula investor akan mendapat laporan tingkat kepercayaan konsumen dan manufaktur.
Harry Rady, manajer investasi dari Rady Asset Management, khawatir bahwa kendati indeks tidak lagi mengalami perubahan drastis dalam beberapa pekan terakhir, investor tampak masih terlalub optimistis atas percepatan pemulihan ekonomi AS.
"Saya melihat ada rasa berpuas diri yang menghinggapi pasar. Pergerakan harga pun naik dan bisa memiliki efek samping," kata Rady. Menurut dia, investor seharusnya masih harus berhati-hati dalam menyikapi situasi yang masih belum stabil, seperti besarnya utang yang ditanggung pemerintah dalam bentuk penjualan obligasi dan lemahnya kurs dolar. (AP)