VIVAnews - Bentrokan fisik antara pemrotes dan polisi antihuru-hara terjadi di Teheran, Minggu 28 Juni 2009. Saksi mengatakan polisi menggunakan tongkat dan gas air mata untuk membubarkan 3.000 pengunjuk rasa di dekat Masjid Ghoba, Teheran Utara.
Sejumlah saksi lainnya menyatakan beberapa pengunjuk rasa menderita patah tulang dan menuding polisi memukuli seorang perempuan tua. Laporan ini tidak dapat diverifikasi karena pemerintah Iran mengeluarkan larangan liputan bagi wartawan media asing.
Teheran Utara merupakan basis kandidat presiden yang kalah dalam pemilu 12 Juni lalu, Mir Hossein Moussavi. Para saksi mengaku tidak melihat kehadiran Moussavi dalam aksi tersebut. Moussavi diwakili salah satu kaki tangannya dan didampingi kandidat lainnya, Mahdi Karroubi.
Kerusuhan ini merupakan yang pertama sejak pekan lalu. Selama kisruh pasca-pemilihan, pemerintah Iran mengatakan 17 pemrotes dan delapan relawan milisi Basij telah tewas, dan ratusan orang telah ditahan.
Federasi Hak Asasi Manusia Internasional (IFHR) memperkirakan sekitar 2.000 penangkapan telah dilakukan. "Bukan hanya orang yang ditangkap dan dibebaskan, tapi juga mereka yang dipenjara," kata wakil presiden IFHR, Abdol Karim Lahidji.
Sementara itu, petugas telah menahan delapan pekerja lokal di Kedutaan Inggris di Teheran dengan tuduhan terlibat dalam unjuk rasa. Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband menyebut langkah Iran sebagai penghinaan dan intimidasi. Uni Eropa mengecam penahanan ini. (AP)