VIVAnews - Pihak oposisi dalam konflik pasca pemilihan presiden Iran menampik tawaran dari Dewan Garda untuk terlibat dalam penghitungan ulang suara, Minggu 28 Juni 2009. Lembaga legislatif top Dewan Garda mengajukan usulan untuk menghitung kembali 10 persen kotak suara dari pemilihan umum 12 Juni lalu.
Penghitungan kedua menurut rencana akan dilakukan dengan kehadiran para pejabat senior dari kedua pihak. Namun kandidat kalah, Mirhossein Mousavi, menolak tawaran itu. Dia mengulang lagi tuntutannya agar seluruh kartu suara dianulir.
"Penghitungan ulang ini tidak akan menghapus ambiguitas," kata Mousavi dalam situs resminya, seperti dikutip dari laman stasiun televisi Sky News. "Tidak ada cara selain menganulir pemungutan suara. Beberapa anggota komite tidak imparsial."
Protes massal massa pendukung Mousavi mengungkap konflik dalam proses pembentukan politik Iran dan menjatuhkan negara republik Islam tersebut ke dalam krisis terparah sejak Revolusi Islam 1979. Media setempat memberitakan, 20 orang tewas dalam aksi kekerasan pasca pemilihan umum.
Dewan Garda menegaskan tidak ditemukan pelanggaran berat dalam pemungutan suara yang memenangkan presiden garis keras, Mahmoud Ahmadinejad.
Ahmadinejad memperingatkan akan melakukan pendekatan lebih keras dalam masa jabatan kedua nanti agar negara-negara Barat menyesal telah ikut campur dalam urusan dalam negeri Iran.
"Tanpa keraguan, pemerintahan baru Iran akan melakukan pendekatan lebih keras dan sungguh-sungguh terhadap Barat," kata Ahmadinejad seperti dikutip dari kantor berita IRNA.
Pidato Ahmadinejad menyusul komentar Presiden Barack Obama yang memuji keberanian rakyat Iran yang memprotes pemilihan kontroversial Iran.