Dunia
Perdagangan Saham di Wall Street

Tingkat Tabungan Meroket, Harga Saham Lemah

Kenaikan tingkat tabungan jauh lebih besar dari peningkatan tingkat belanja

Sabtu, 27 Juni 2009, 08:39 WIB
Renne R.A Kawilarang
Reaksi seorang pialang di Wall Street menyaksikan indeks harga saham (AP Photo/Richard Drew)

VIVAnews - Konsumen di Amerika Serikat (AS) masih cenderung menabung ketimbang berbelanja. Itulah yang dikhawatirkan investor di bursa saham Wall Street setelah menyimak laporan dari Departemen Perniagaan AS.

Pergerakan harga saham, yang sehari sebelumnya naik lebih dari dua persen, kini malah melemah. Di akhir perdagangan sore waktu New York (Sabtu dini hari WIB), indeks harga saham industri Dow Jones turun 34,01 poin (0,4 persen) menjadi 8.438,39.

Begitu pula dengan indeks harga saham indikator Standard & Poor's 500, turun 1,36 poin (0,2 persen) menjadi 918,90. Sebaliknya, indeks harga saham teknologi Nasdaq naik, meski hanya 8,68 poin (0,5 persen) menjadi 1.838,22.

Laporan Departemen Perniagaan mengungkapkan bahwa tingkat belanja, pendapatan, dan tabungan konsumen naik selama bulan Mei. Namun, yang membuat sebagian investor gusar, tingkat tabungan ternyata melonjak 6,9 persen - yang merupakan rekor tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Sedangkan tingkat belanja konsumen hanya sedikit naik, yaitu 0,3 persen.

Data itu menggambarkan bahwa konsumen ternyata masih sangat hati-hati untuk membelanjakan uang mereka. Bagi individu, sikap di tengah resesi itu merupakan tindakan yang bijak. Namun situasi itu justru tak mampu mendorong ekonomi, yang sangat bergantung kepada tingginya belanja konsumen agar ekonomi terus tumbuh.

Phil Orlando, ahli strategi pasar dari Federated Investors, memperkirakan bahwa tingkat tabungan bisa naik 10 persen sebelum akhinya mereda. Padahal, April lalu, tingkat tabungan sudah mencapai 5,6 persen dan tingkat tabungan tahunan berada di bawah 1 persen selama periode 2005 - 2007.

"Bila konsumen terus-menerus menumpuk tabungan, pemulihan ekonomi berdasarkan tingkat produk domestik bruto akan berjalan lebih lambat dari yang diharapkan," kata Orlando. (AP)

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ