VIVAnews - Amerika Serikat (AS) kemungkinan berada dibalik pembunuhan Neda Agha-Soltan (26), perempuan Iran yang tewas ditembak Sabtu lalu dan videonya beredar di internet.
Dugaan ini diungkapkan duta besar Iran untuk Meksiko, Mohammad Hassan Ghadiri, Kamis 25 Juni 2009.
"Kematian Neda sangat mencurigakan," kata Ghadiri, seperti dikutip dari laman stasiun televisi CNN. "Pertanyaan saya adalah, bagaimana bisa Neda ditembak dari belakang, ditembak di depan beberapa kamera, dan ditembak di area di mana tidak ada aksi demonstrasi yang signifikan?"
Ghadiri menambahkan bahwa CIA atau agen intelijen lain kemungkinan bertanggung jawab atas kejadian tersebut. "Kalau CIA ingin membunuh orang dan menghubungkan itu dengan elemen pemerintah, maka perempuan adalah pilihan tepat karena kematian seorang perempuan menarik lebih banyak simpati," terang Ghadiri.
Juru bicara CIA, George Little, memberikan respons. "Segala tuduhan bahwa CIA bertanggung jawab atas kematian perempuan muda ini salah, absurd, dan merupakan penghinaan," kata Little.
Meski tayangan video menunjukkan bahwa Neda ditembak di dada, Ghadiri mengatakan bahwa peluru ditemukan di kepalanya dan peluru itu bukan jenis yang dipakai di Iran.
"Itu merupakan metode yang dipakai teroris, CIA, dan agen mata-mata," katanya. "Mereka ingin melihat ada pertumpahan darah dalam demonstrasi itu, sehingga mereka menggunakannya untuk menyerang Republik Islam Iran. Ini adalah metode yang biasa dipakai CIA di berbagai negara," ujar Ghadiri.
Namun, tambahnya, "Saya tidak bilang kalau CIA telah melakukannya. Mereka adalah kelompok berbeda. Bisa saja tindakan itu dilakukan oleh agen intelijen lain, yang bisa jadi itu CIA, bisa juga pelaku teroris. Ada orang-orang yang menggunakan metode ini."
Mengenai larangan bagi jurnalis asing melakukan peliputan, Ghadiri menyalahkan reporter itu sendiri. "Beberapa dari reporter dan media massa tidak merefleksikan kebenaran."