Dunia
Perdagangan Saham di Wall Street

Produsen Bangunan Untung, Saham Melonjak

Selain itu, lelang obligasi Departemen Keuangan pekan ini berjalan sukses

Jum'at, 26 Juni 2009, 07:28 WIB
Renne R.A Kawilarang
  (AP Photo/Richard Drew)

VIVAnews - Para investor kembali memborong saham begitu mengetahui laporan besarnya laba yang dinikmati sejumlah perusahaan, yang sebagian besar adalah produsen material bangunan dan ritel. Semua indeks harga saham di Wall Street pun naik lebih dari 2 persen

Di akhir perdagangan Kamis sore waktu setempat (Jumat dini hari WIB), indeks harga saham industri Dow Jones naik 172,54 poin (2,1 persen) menjadi 8.472,40, setelah sempat turun 40 poin di awal transaksi. Ini merupakan kebangkitan bagi indeks Dow setelah anjlok selama empat hari dan sekaligus kenaikan terbesar sejak 1 Juni lalu. 

Begitu pula dengan indeks harga saham indikator Standard & Poor's 500, naik 19,32 poin (2,1 persen) ke posisi 920,26. Sedangkan indeks harga saham teknologi Nasdaq naik 37,20 (2,1 persen) menjadi 1.829,54.

Investor antusias dengan besarnya laba produsen material bangunan. Lennar Corp., misalnya, mendapat kenaikan order pembangunan rumah baru sebesar 63 persen selama triwulan kedua. Pendapatan Lennar pun di luar perkiraan pengamat.

Begitu pula dengan Bed Bath & Beyond Inc. Peritel perabotan rumah itu mengaku mengalami kenaikan pendapatan di kuartal pertama sebesar 14 persen seiring dengan naiknya penjualan setelah bangkrutnya Linens N Things.

Kenaikan harga saham terus berlanjut setelah Gubernur Bank Sentral AS, Ben Bernanke, menepis tuduhan dalam rapat dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahwa dia pernah menekan Bank of America Corp. untuk mengakuisisi Merrill Lynch dengan melibatkan dana pembayar pajak sebesar US$20 miliar.

Namun kalangan pengamat menilai bahwa dengan melihat cara Bernanke mengelak tuduhan itu, kecil kemungkinan dia akan mengundurkan diri sebelum masa baktinya berakhir pada awal tahun depan.      
  
Faktor lain penggenjot indeks di Wall Street adalah suksesnya lelang obligasi Departemen Keuangan pekan ini. Artinya, muncul kepercayaan bahwa pemerintah AS akan mampu menggalang cukup dana untuk membiayai program-program pemulihan ekonomi.

Investor juga memuji pengumuman The Fed (Bank Sentral AS) bahwa mereka akan mengakhiri sejumlah program pinjaman darurat, yang dibentuk akhir tahun lalu saat krisis keuangan memuncak. (AP)




• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ