VIVAnews - Pemerintah yang berkuasa di Iran terus melakukan tindakan represif terhadap para demonstran yang turun ke jalan. Bahkan, pemerintah pimpinan Mahmoud Ahmadinejad itu berusaha mencari para blogger dan tweetizens (penulis twitter) yang menyebarkan apa yang terjadi di dalam negeri.
"Ada seruan dukungan untuk Iran agar para penulis di twitter men-setting waktu sama dengan para penulis di Iran," kata penggiat blog yang kerap disebut Bapak Blogger Indonesia, Enda Nasution, dalam keterangan kepada VIVAnews, Selasa, 23 Juni 2009.
Menurut Enda, seruan itu digaungkan agar pemerintah Iran kesulitan mencari para blogger dan tweetizens yang asli Iran. Karena, lanjut dia, bila setiap negara di seluruh dunia memberikan dukungan dengan cara menyamakan waktu dengan lokasi di Iran, maka itu akan menyulitkan sweeping blogger di Iran.
"Itu untuk memperlambat pencarian. Ya, kita sih coba saja. Mudah-mudahan berhasil," ujar Ketua Komite Pesta Blogger 2007 ini. Pemerintah Iran pun mencari tweetizens dan blogger melalui detail pengirim. Mulai dari waktu dan lokasi penulis berada.
Langkah itu dilakukan Iran sejak maraknya video dan foto-foto dugaan kekerasan tindakan aparat setempat terhadap para demonstran. Yang terakhir dan membuat banyak simpati adalah soal penembakan yang menewaskan Neda Agha-Soltan.
Tayangan video menunjukkan Neda sudah terjatuh dan darah mengucur dari mulutnya. Video itu menyebar cepat ke laman-laman internet sejak diunggah (upload) ke dalam suatu laman jejaring sosial, Minggu 21 Juni 2009.
ismoko.widjaya@vivanews.com