VIVAnews - Sabtu, 20 Juni 2009, udara di dalam mobil yang dikendarai Neda Agha-Soltan dan temannya sangat panas. Mereka pun terpaksa keluar dari mobil untuk menghirup udara segar.
Neda dan temannya saat itu berada di suatu sudut di kota Teheran, tak jauh dari lokasi demonstrasi para pendukung oposisi Iran pimpinan Mir Hossein Mossavi, yang juga berstatus kandidat presiden. Mereka tak puas dengan hasil pemilu 12 Juni lalu, yang kembali memenangkan Presiden Mahmud Ahmadinejad secara telak.
Aksi demonstrasi berlangsung ricuh. Tiba-tiba sebuah peluru mendesing ke arah Neda. Dia langsung terjerembab. "Saya merasa terbakar," kata perempuan berusia 26 tahun itu sebelum menghembuskan nafas terakhir, seperti yang dimuat di laman harian The New York Times.
Tayangan video menunjukkan Neda sudah terjatuh dan darah mengucur dari mulutnya. Video itu menyebar cepat ke laman-laman internet sejak diunggah (upload) ke dalam suatu laman jejaring sosial, Minggu 21 Juni 2009.
Menurut keluarganya, Neda bukanlah seorang aktivis politik dan hanya bercita-cita menjadi penyanyi. Namun, kematiannya membuat Neda menjadi seorang martir di kalangan kubu anti pemerintah, tepatnya anti Ahmadinejad.
Tak jelas, siapa yang menembak mati Neda. Namun, kecurigaan langsung terarah kepada pihak keamanan. Mereka langsung beraksi membubarkan demonstrasi secara paksa sehari setelah pemimpin spiritual Ayatullah Ali Khamenei mengeluarkan fatwa melarang rakyat kembali berdemo menggugat hasil pemilu, yang mereka anggap sarat kecurangan.
Khamenei sudah menegaskan bahwa tidak ada kecurangan dalam pemilu, yang diikuti 85 persen dari rakyat yang punya hak pilih. Namun, kubu oposisi masih tidak terima kendati rasa frustrasi mulai menghinggapi mereka.
"Saya begitu khawatir bahwa semua pengorbanan yang kami lakukan pekan lalu, dan darah yang telah terkucur, akan sia-sia," kata seorang perempuan yang menangisi kematian Neda, Senin 22 Juni 2009. "Saya menangis setiap kali melihat wajah Neda di televisi," lanjut dia.

Neda Agha Soltan berupaya diselamatkan setelah ditembak (AP Photo)
Video Neda berulangkali ditayangkan sejumlah laman dan stasiun televisi milik oposisi, yang hanya bisa disaksikan lewat parabola. Sejak Senin malam, sudah 6.860 pengunjung yang menyambangi laman Google bahasa Parsi yang menayangkan video Neda.
Sejumlah laman juga menyarankan agar Jalan Kargar, yang menjadi lokasi penembakan, berganti nama menjadi Jalan Neda. Mehdi Karroubi, seorang kandidat pemilu presiden lalu, sudah menyebut Neda sebagai seorang martir.
"Seorang perempuan muda, yang tidak memegang senjata di tangannya yang halus, dan tidak mengantungi granat di bajunya, telah menjadi korban para preman yang didukung oleh para aparat intelijen," tulis Karroubi di laman internetnya.
Teman-teman maupun kerabat Neda mengungkapkan bahwa almarhum merupakan mahasiswi jurusan filsafat dan diam-diam mengambil kursus menyanyi. Pasalnya, di Iran, perempuan dilarang menyanyi di depan umum.
Dalam bahasa Parsi, nama Neda berarti suara. Maka, banyak oraang kini menyebut Neda Suara Iran. Tunangan Neda, Caspian Makan, mengaku bahwa kekasihnya itu bukanlah pendukung salah satu kandidat presiden. "Dia hanya ingin kebebasan, kebebasan bagi siapa saja," kata Caspian di laman Wikipedia versi bahasa Parsi.
Sedangkan temannya yang sekaligus guru menyanyi, Hamid Panahi, mengungkapkan saat-saat akhir bersama Neda. "Kami mendengar suara tembakan dan sebuah peluru langsung menembus dada Neda," kata Hamid.
Tembakan itu berasal dari atap sebuah rumah di seberang jalan. Dalam laman Facebook, seorang dokter mengaku berupaya menyelamatkan jiwa Neda, namun gagal karena peluru itu kemungkinan telah mengenai jantung.
Menurut kerabat, pemerintah langsung memerintahkan keluarga Neda untuk segera mengubur jenazahnya. Mereka pun dilarang melakukan upacara pemakaman.
Itulah sebabnya pasukan milisi bermotor langsung membubarkan 70 orang yang berkumpul di luar masjid Niloofar, tempat Neda disemayamkan, Senin lalu. Kain hitam tanda berkabung juga dilarang dipasang.
Kini, Neda menjadi bagian dari mereka yang tewas akibat demonstrasi pasca pemilu. Jumlah korban tewas masih simpang siur. Stasiun televisi pemerintah melaporan 10 korban tewas, sedangkan radio pemerintah memberitakan 19. Namun kubu oposisi yakin jumlah lebih dari itu.