VIVAnews - Iran menuding Inggris telah turut campur dan memanas-manasi kekisruhan di negaranya pasca pemilihan umum (Pemilu) 12 Juni. Selain itu, Iran juga mengusir seorang koresponden stasiun televisi asal Inggris, BBC.
Kritik atas campur tangan Inggris dilontarkan Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Manouchehr Mottaki. "Saya rasa semua pihak telah mengetahui kebijakan Inggris di kawasan Timur Tengah. Negara ini adalah pelopor terciptanya rezim illegal Zionis," ujar Mottaki dalam pertemuan dengan para duta besar negara asing di Teheran, Minggu 21 Juni 2009.
"Negara tersebut (Inggris) juga selalu berusaha untuk menyebarluaskan ketidakamanan dan pertikaian di kawasan," lanjut Mottaki dalam pernyataan yang dikirim oleh Kedutaan Besar Iran di Jakarta kepada VIVAnews.
Mottaki menegaskan bahwa sepanjang sejarah, Inggris telah melakukan berbagai langkah untuk menyebarluaskan perbedaan atas sejumlah negara - seperti India, Afganistan dan Iran. "Bahkan Inggris selama ini telah mencoba untuk mengkacaukan hubungan Iran dengan berbagai negara lain," kata Mottaki.
Komentar Mottaki ini menggambarkan kemarahan Iran atas sikap Inggris yang gencar mengkritisi pemilu 12 Juni lalu, yang kembali memenangkan Presiden Mahmoud Ahmadinejad.
Menurut Mottaki, terkait dengan pemilu presiden di Iran, Inggris pertama-tama mencoba mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu. "Setelah tujuan ini gagal, mereka mencoba untuk mengirimkan orang-orang yang jumlahnya makin hari makin bertambah ke Iran dengan tujuan tertentu agar orang-orang tersebut dapat mempengaruhi pemilu dengan berbagai pengetahuan inteligensinya," lanjut Mottaki.
"Inggris dengan mengorganisasi 250 dosen di berbagai perguruan tinggi AS berusaha untuk merubah pandangan Presiden Barack Obama, tentang Iran," kata Mottaki, merujuk pada sikap Obama yang ingin melakukan pendekatan bersahabat dengan negara-negara Timur Tengah, termasuk Iran, saat berpidato di Kairo, Mesir, beberapa pekan lalu.
Stasiun televisi BBC pun dianggap melakukan pemberitaan yang berat sebelah karena membela pemimpin oposisi sekaligus rival tangguh Ahmadinejad, Mir Hossein Mottaki, yang menuding pemilu kali ini sarat dengan kecurangan dan menuntut pemungutan suara ulang.
Sementara itu, BBC, Minggu 21 Juni 2009, membenarkan bahwa Iran memerintahkan koresponden Jon Leyne untuk meninggalkan negara itu dalam jangka waktu 24 jam. Namun, BBC menyatakan tetap melakukan liputan di Iran kendati siaran mereka, BBC Persian TV juga sudah diblokir pemerintah setempat.
Selain itu, Iran juga membekukan izin liputan stasiun televisi al-Arabiya dan menahan dua wartawan lokal yang bekerja untuk US Magazines. Kendati demikian, BBC telah menambah jumlah satelit yang untuk menyiarkan BBC Persian untuk para pemirsa berbahasa Parsi di Iran, Afganistan, dan Tajikistan.