VIVAnews - Pemimpin kubu oposisi Iran, Mir Hossein Mousavi, meminta para pendukung untuk melanjutkan aksi protes mempersoalkan kecurangan pemilihan umum (Pemilu) 12 Juni, yang kembali memenangkan Presiden Mahmoud Ahmadinejad.
Dalam pernyataan tertulis yang diperoleh stasiun televisi al-Jazeera, Minggu 21 Juni 2009, Mousavi mengatakan bahwa rakyat punya hak untuk melanjutkan protes atas "kebohongan dan suap." Namun, mantan perdana menteri Iran itu minta para pendukung untuk menahan diri melakukan kekerasan.
Seruan Mousavi itu seolah tak menggubris anjuran pemimpin spritual Ayatollah Ali Khamenei dalam khotbah Jum'at pekan lalu agar rakyat tak lagi mempersoalkan kecurangan pemilu dan tidak kembali berdemonstrasi di jalan.
Pernyataan Mousavi dimuat di laman surat kabar oposisi, Kalameh, dan di sejumlah laman milik pendukungnya. Di saat yang sama, polisi mulai memblokade jalan-jalan utama di Ibukota Teheran di tengah laporan sejumlah bentrokan di bagian utara.
Sementara itu, media pemerintah mengungkapkan bahwa 10 orang tewas dalam aksi protes kepada pemerintah Sabtu pekan lalu. Namun, jumlah pasti sulit didapat karena pemerintah menerapkan banyak larangan atas wartawan asing.
Bahkan, seorang koresponden stasiun televisi BBC telah diusir dari Iran. Selain itu, Iran juga membekukan izin liputan stasiun televisi al-Arabiya dan menahan dua wartawan lokal yang bekerja untuk US Magazines.