VIVAnews - Tahun ini banyak warga Amerika kembali menanamkan uang mereka dengan membeli saham. Namun pengamat bursa khawatir banyak warga belum kembali rutin membeli kebutuhan-kebutuhan lain - seperti pakaian, mobil, dan komputer.
Pekan ini, data terkini tingkat pengeluaran konsumen menjadi perhatian para pelaku bursa saham. Departemen Perniagaan Amerika Serikat (AS) Jumat pekan ini akan mengungkapkan data pengeluaran dan pendapatan konsumen selama bulan Mei. Pada hari yang sama, Universitas Michigan juga menggulirkan data sentimen konsumen untuk bulan Juni.
Menurut data akhir-akhir ini, tingkat kepercayaan konsumen di AS kian menanjak, namun belum disertai dengan naiknya tingkat belanja. Pasalnya, pelaku pasar khawatir bahwa pengeluaran konsumen telah turun selama delapan dari sepuluh bulan terakhir.
Padahal, belanja konsumen merupakan motor penggerak pertumbuhan ekonomi AS. Selama tingkat pembelajaan belum bangkit, pasar pun belum pulih.
"Bila melihat gambaran singkat, konsumen masih repot dengan pelunasan utang, menambah tabungan, dan membatasi konsumsi," kata Joseph V. Battipaglia, pengamat dari Stifel Nicolaus & Co.
Kini, kondisi bursa Wall Street mulai lesu sejak awal Juni setelah mengalami reli yang mengagumkan selama hampir tiga bulan. Ini berkat optimisme besar para investor setelah melihat sejumlah data yang menunjukkan industri keuangan mulai stabil dan resesi ekonomi mereda.
Dalam hampir tiga bulan terakhir, indeks harga saham industri Dow Jones mengalami kenaikan 30,4 persen setelah mencetak rekor terendah dalam 12 tahun terakhir pada 9 Maret lalu. Namun, indeks Dow sejak pekan lalu malah turun 3 persen setelah mencetak level tertinggi dalam lima bulan terakhir, yaitu 8.799.
Besarnya anggaran program stimulus ekonomi dan pinjaman talangan dari pemerintah membuat nilai tukar dolar melemah, naiknya tingkat suku bunga, dan meningkatnya harga komoditas. Harga minyak mentah dan tingkat hipotek 30 tahun pekan lalu sedikit melemah, namun mereka sempat mencetak rekor tertinggi pada pekan sebelumnya.
Perkembangan demikian tidak semuanya berdampak negatif. Lemahnya kurs dolar justru menggenjot ekspor AS dan naiknya harga komoditas membantu menaikkan pendapatan produsen di lantai bursa. Tingginya harga sumber energi dan metal juga menandakan bahwa investor kini makin percaya atas situasi ekonomi. Kendati demikian, mereka juga sadar bahwa naiknya bunga hipotek dan harga bahan bakar minyak bisa memukul sebagian besar konsumen.
Para investor juga menunggu keputusan Bank Sentra, The Fed, untuk jadi tidaknya menaikkan tingkat suku bunga pekan ini. Yang paling diantisipasi investor adalah The Fed akan mempertahankan rentang suku bunga 0 - 0,25 persen.
Namun investor juga mengamati kalau-kalau para pengambil kebijakan bakal membeli obligasi Departemen Keuangan atau sekuritas lain, yang bisa mempengaruhi situasi pasar. (AP)