VIVAnews - Polisi Iran mulai bertindak keras terhadap ribuan orang yang berdemonstrasi di jalan-jalan ibukota Iran, Teheren. Polisi menembakkan gas air mata dan kanon air ke arah sekitar 3.000 demonstran yang berkumpul di dekat Lapangan Revolusi di pusat kota Teheran.
Para demonstran ini, menurut saksi mata yang melaporkan ke Associated Press, menyatakan tembakan gas air mata mulai terjadi ketika pengunjuk rasa meneriakkan "Diktator Mati!" dan "Mampus untuk Kediktatoran" berkali-kali. Belum jelas apakah ada tembakan peluru logam dalam peristiwa ini. Stasiun televisi pemerintah menyatakan polisi menggunakan kekerasan untuk menghentikan demonstrasi tanpa izin.
Saksi mengatakan ada 50 sampai 60 demonstran dipukuli oleh milisi pro-pemerintah. Mereka lalu dibawa ke rumah sakit Imam Khomeini. Banyak orang melihat korban pemukulan ditarik teman-temannya dalam keadaan berdarah-darah.
Terjadi perlawanan atas milisi ini. Di sejumlah kawasan, milisi diserang balik dengan lemparan bom molotov. Suasana Teheran pada Sabtu 20 Juni 2009 sore begitu kalut sehingga di mana-mana terdengar teriakan takbir.
Di langit Teheran, sejumlah helikopter berseliweran. Di jalanan, raungan ambulans terus terdengar dengan diselingi teriakan para demonstran.
Iran berada dalam konflik setelah calon incumbent Mahmoud Ahmadinejad dinyatakan memenangi pemilihan dengan mengantongi 62,63 persen suara. Lawan-lawannya menuding ada kecurangan dalam proses penghitungan suara dan menyebabkan gelombang demonstrasi terbesar sejak Revolusi Iran.
arfi.bambani@vivanews.com