VIVAnews - Lebih dari satu miliar warga dunia, atau seperenam dari populasi dunia, menderita kelaparan. Jumlah tersebut merupakan rekor sejarah dan kemungkinan diperparah oleh krisis ekonomi global yang menyebabkan tingginya harga bahan pangan.
Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani urusan pangan dan pertanian (FAO), Jumat 19 Juni 2009, melaporkan bahwa dibanding tahun lalu, ada penambahan 100 juta orang yang kelaparan. Maksudnya adalah mereka yang mengonsumsi kurang dari 1.800 kalori per hari.
Hampir semua penderita gizi buruk berada di negara-negara berkembang, di mana harga makanan turun dengan sangat lamban dibanding negara maju. Negara-negara miskin memerlukan peningkatan pertanian dan bantuan untuk mengatasi masalah kelaparan ini. “Krisis kelaparan yang diam-diam telah melanda seperenam jumlah manusia di dunia ini mengandung risiko serius bagi keamanan dan perdamaian dunia,” kata Jacques Diouf, Direktur Jenderal FAO, seperti dikutip dari laman stasiun televisi MSNBC.
Para pejabat FAO mempresentasikan estimasi jumlah korban kelaparan ini di Roma, Italia, untuk menekankan hubungan antara kelaparan dan perdamaian. Mereka menyebutkan bahwa meningkatnya harga bahan makanan pokok seperti beras, memicu huru-hara di negara-negara berkembang tahun lalu.
Secara global, jumlah penderita kelaparan di dunia kini berjumlah sekitar 1,02 miliar orang, meningkat 11 persen dari tahun 2008 yang berjumlah 915 juta orang. Data tersebut dibuat berdasarkan analisis oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat.
Asia Pasifik, wilayah dengan penduduk terpadat di dunia, memiliki jumlah terbanyak korban kelaparan, yakni sebesar 642 juta orang. Sub-Sahara di Afrika memiliki tingkat kelaparan tertinggi dengan 265 juta orang mengidap gizi buruk. Jumlah tersebut mewakili 32 persen dari total penduduk di wilayah tersebut.
Sedangkan di negara maju, gizi buruk mulai menjadi perhatian dengan 15 juta penduduk negara berkembang kini menderita kelaparan. Krisis juga menyebabkan keluarga miskin terpaksa membeli makanan yang lebih murah yang kaya kalori tetapi rendah protein.
Diouf mendesak pemerintah berbagai negara untuk segera membentuk program proteksi sosial untuk meningkatkan akses makanan kepada mereka yang membuuhkan. Dia mengatakan, petani kecil seharusnya diberi bantuan berupa bibit, peralatan, dan pupuk.