VIVAnews - Meski mengatakan tak ingin tampak terlalu mencampuri urusan dalam negeri Iran, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama kembali angkat bicara soal kerusuhan pasca pemilu presiden di Iran. Pernyataan Obama disampaikan pasca pernyataan pemimpin spritual Iran, Ayatullah Ali Khomaeni.
"Saya sangat cemas dengan maksud dari pernyataan yang mereka buat. Pemerintah Iran tahu kalau dunia sedang mengawasi mereka, kata Obama dalam wawancara di stasiun televisi CBS, Jumat 19 Juni 2009
Obama berharap pemerintah Iran melakukan pendekatan damai untuk menyelesaikan konflik pasca pemilu antara kubu pemerintah dan kubu oposisi. "Bagaimana pendekatan mereka, saya kira akan mengirim sinyal jelas kepada komunitas internasional tentang seperti apa Iran," lanjut Obama seperti dikutip dari laman stasiun televisi BBC.
Sebelumnya, juru bicara Gedung Putih, Robert Gibbs, mengatakan, aksi protes atas pemilihan umum Iran adalah tindakan luar biasa dan berani.
Dalam pidatonya di Universitas Teheran, Jumat 19 Juni 2009, Khomaeni menyerukan agar krisis politik dan keamanan pasca pemilihan presiden Iran segera diakhiri.
Khomaeni juga menyatakan dukungannya atas pemilu yang memenangkan Mahmoud Ahmadinejad dan memperingatkan pemimpin oposisi, mereka bertanggungjawab jika terjadi pertumpahan darah dan kekacauan.
"Aksi jalanan dilakukan untuk menekan pemimpin, tetapi kami tidak akan tunduk di hadapan mereka," kata Khomaeni.
Lebih lanjut, Khamenei mengatakan hasil penghitungan resmi yang menunjukkan kemenangan calon Mahmoud Ahmadinejad tidak perlu diragukan. "Ada selisih hingga sebelas juta suara, bagaimana caranya menggelembungkan suara sebesar itu?" kata dia.
Iran berada dalam konflik setelah calon incumbent Mahmoud Ahmadinejad dinyatakan memenangi pemilihan dengan mengantongi 62,63 persen suara. Lawan-lawannya menuding ada kecurangan dalam proses penghitungan suara dan menyebabkan gelombang demonstrasi terbesar sejak Revolusi Iran.
Puluhan ribu orang pro pemerintah maupun oposisi turun ke jalan pasca hasil pemilu Iran diumumkan. Aksi demonstrasi itu berubah menjadi rusuh dan makan korban, stasiun radio Iran mengabarkan, tujuh orang tewas dalam demonstrasi di Teheran, Iran, Senin 15 Juni 2009.
Dewan Pertimbangan Iran akan bertemu dengan rival-rival Ahmadinejad. Dewan telah mengundang kandidat presiden, Mir Hossein Mousavi, Mehdi Karroubi, dan Mohsen Rezai untuk mendiskusikan lebih dari 600 keberatan yang mereka ajukan terkait pemungutan suara pekan lalu.