VIVAnews - Indeks harga saham di bursa Wall Street, New York, bangkit kembali setelah tiga hari berturut-turut melemah. Namun kenaikan indeks tidak berlangsung drastis.
Pada akhir perdagangan Kamis sore waktu setempat (Jumat ppagi WIB), indeks harga saham Dow Jones naik 58,42 poin (0,7 persen) menjadi 8.555,60. Kenaikan ini merupakan yang tertinggi dalam dua pekan terakhir.
Indeks harga saham indikator Standard & Poor's 500 juga naik, yaitu 7,66 poin (0,8 persen) menjadi 918,37. Sebaliknya, indeks harga saham teknologi Nasdaq turun, walau hanya 0,34 poin atau kurang dari 0,1 persen menjadi 1.807,72.
Kenaikan indeks dipicu oleh bangkitnya harga saham perusahaan keuangan dan kesehatan, menggantikan peran harga saham perusahaan teknologi yang memimpin kenaikan sehari sebelumnya.
Bangkitnya harga-harga saham dipicu oleh sejumlah laporan positif atas perkembangan ekonomi di Amerika Serikat (AS). Investor pun ramai-ramai menjual obligasi Departemen Keuangan karena melihat adanya tanda-tanda perbaikan ekonomi.
Dalam rapat dengan Komisi Perbankan Senat, Menteri Keuangan Timothy Geithner mengaku telah melihat tanda-tanda pemulihan dalam industri keuangan. Namun, Geithner berupaya meyakinkan Senat untuk mendukung reformasi sistem keuangan AS yang diusulkan Presiden Barack Obama, yang diantaranya membentuk instansi perlindungan konsumen dalam pengajuan kredit kepada bank.
Kalangan perbankan memang khawatir akan usulan itu karena semua transaksi mereka dengan konsumen akan diawasi lebih ketat oleh pemerintah. Namun usulan Obama itu didukung kalangan publik dan lagipula krisis ekonomi AS saat ini bermula dari masalah yang timbul dari industri perbankan yang kurang diawasi pemerintah.
"Publik kini senang dengan rencana penambahan regulasi di sejumlah sektor yang kurang terawasi," kata Joe Keetle, manajer investasi dari Dawson Wealth Management.
Sebuah lembaga riset swasta juga mengungkapkan bahwa proyeksi aktivitas ekonomi ternyata lebih besar dari yang diperkirakan Mei lalu. Ini menandakan kenaikan dalam dua bulan berturut-turut setelah tujuh bulan sebelumnya mengalami penurunan.
Selain itu, laporan pemerintah AS mengungkapkan bahwa jumlah warga yang menerima tunjangan pengangguran pekan lalu menurun. Ini pertama kali terjadi sejak awal Januari lalu sekaligus menghentikan penambahan jumlah dalam 21 pekan beturut-turut.
Bank Sentral di negara bagian Philadelphia juga mengungkapkan bahwa aktivitas manufaktur di wilayah itu telah meningkat. Laporan-laporan itu membuat investor kembali yakin bahwa pemulihan telah dimulai.
Namun, kalangan pengamat menilai bahwa masih ada gejolak yang bisa menghambat reli indeks harga saham. "Saya tidak yakin reli akan berlangsung lama," kata Scott Armiger, manager portofolio dari Christiana Bank & Trust mengomentari kenaikan indeks di Wall Street, Kamis. (AP)