Dunia
Perdagangan Saham di Wall Street

Saham Perbankan Loyo, Indeks Ikut Lemas

Standard & Poor's mencatat kekhawatiran atas industri keuangan AS yang masih rentan

Kamis, 18 Juni 2009, 07:17 WIB
Renne R.A Kawilarang
Reaksi seorang pialang saat melihat papan indeks bursa saham Wall Street (AP Photo/Richard Drew)

VIVAnews - Investor di bursa saham Wall Street, New York, menghadapi kekhawatiran baru: proyeksi suram dari FedEx Corp. dan menurunnya peringkat 18 bank utama di Amerika Serikat (AS).

Itulah sebabnya hampir semua indeks di Wall Street, kecuali Nasdaq, kembali melemah di akhir perdagangan Rabu sore waktu setempat (Kamis dini hari WIB). Indeks harga saham industri Dow Jones turun 7,49 atau hanya 0,1 persen menjadi 8.497,18 setelah keluar masuk zona positif di sepanjang hari. Indeks saham indikator Standard & Poor's 500 juga turun, sebesar 1,26 poin (0,1 persen) menjadi 910,71.

Sebaliknya, indeks harga saham teknologi Nasdaq naik 11,88 poin atau 0,7 persen menjadi 1.808,06.
 
Penurunan indeks Dow tidak sampai drastis berkat penguatan harga saham perusahaan-perusahaan medis setelah Senat AS menunjukkan kemajuan dalam membicarakan reformasi layanan kesehatan.

Namun berita bagus itu dikalahkan oleh laporan proyeksi melemahnya laba perusahaan ekspedisi FedEx disertai dengan komentar suram atas situasi ekonomi AS. Para pengamat juga memperhatikan kondisi bisnis perusahaan ekspedisi seperti FedEx sebagai salah satu daya dorong kekuatan ekonomi.

Selain itu harga saham perusahaan perbankan menderita penurunan setelah Standard & Poor's menurunkan peringkat sekaligus merevisi proyeksi atas bank-bank utama. S&P mencatat kekhawatiran atas industri keuangan yang masih rentan. Banyak bank juga diperkirakan menghadapi pengawasan regulasi yang lebih ketat dari pemerintah.

Richard Hughes dari Portfolio Management Consultants menilai bahwa pergerakan pasar telah keluar dari kenyataan saat ekonomi masih lemah. Apalagi muncul data dari Departemen Tenaga Kerja AS bahwa kenaikan indeks harga konsumen bulan lalu ternyata hanya 0,1 persen. Padahal, proyeksi sebelumnya adalah 0,3 persen.  

Kondisi itulah yang membuat investor kini kurang agresif memborong saham. "Investor kini berhenti sejenak dan ini memang wajar," kata Hughes. (AP)
 





• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ