VIVAnews - Setelah tiga bulan sebelumnya dilanda reli yang dahsyat, pergerakan indeks harga saham di Wall Street, New York, diyakini mulai memasuki fase melambat.
Para pengamat menilai bahwa investor masih memerlukan bukti-bukti konkret atas mulai pulihnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) dari resesi sebelum mereka menaikkan harga-harga saham.
Namun, di saat yang sama, muncul kegelisahan akan naiknya tingkat suku bunga, kurs dolar yang menurun dan bangkitnya kembali harga-harga komoditas. Padahal semua faktor itu berperan vital bagi pemulihan bursa saham dan ekonomi AS.
Namun, perdagangan di lantai bursa biasanya melambat setiap tengah tahun. Maka, pada pekan ini, pergerakan harga saham akan cenderung tenang, tidak ada kenaikan atau penurunan drastis, apalagi bila tidak ada laporan-laporan ekonomi.
Bagi kalangan pengamat, gejala itu tidaklah buruk. "Situasi demikian pada dasarnya merupakan langkah yang korektif," kata Keith Springer, presiden Capital Financial Advisory Services di Sacramento, California. "Ini artinya kita menghindari kondisi pembelian saham secara berlebihan (overbought)," lanjut Springer.
Para pengamat sudah memperingatkan bahwa bursa mungkin telah mengalami reli yang drastis sejak awal Maret lalu. Itu merupakan raihan yang besar.
Indeks harga saham Standard & Poor's 500, contohnya. Indeks acuan itu mengalami kenaikan 40 persen sejak awal Maret lalu. Biasanya, kenaikan itu memakan waktu hingga bertahun-tahun, bukan dalam jangka waktu tiga bulan.
Kendati saat ini tidak mengalami reli yang dahsyat, tidak berarti semua indeks harga saham langsung mengalami penurunan drastis. Ini justru menunjukkan tanda menguatnya kondisi pasar.
Pekan lalu, kenaikan indeks harga saham hanya kurang dari 1 persen setelah mencetak raihan besar pada pekan sebelumnya. Indeks Standard & Poor's 500 hanya naik 6 poin, sedangkan indeks Dow Jones hanya naik 36 poin, dan indeks harga saham teknologi Nasdaq 9 poin. Namun, indeks Dow Jones mampu membuat kenaikan terbesar tahun ini di akhir perdagangan Jumat lalu, 12 Juni 2009.
Namun yang kini tengah diwaspadai para investor adalah potensi naiknya tingkat suku bunga dan inflasi. Gejala itu sudah nampak saat nilai tukar dokar melemah atas sejumlah mata uang utama lain.
Kurs dolar melemah dalam tiga bulan terakhir, sebagian akibat tanda-tanda perbaikan ekonomi sehingga para investor mencari aset-aset yang lebih menguntungkan sekaligus lebih berisiko seperti saham dan komoditas.
Nilai tukar dolar kian menurun saat investor menyaksikan utang pemerintah menggunung sehingga hasil bunga obligasi (yield) pun meningkat. Investor khawatir akan besarnya aliran utang pemerintah ke pasar dalam bentuk penjualan obligasi, yang merupakan bagian dari upaya Departemen Keuangan untuk mendanai program stimulus pemerintah.
Namun investor khawatir bahwa kondisi oversupply utang pemerintah justru membuat takut para pembeli, yang memilih tidak akan membeli dolar dalam rangka membeli obligasi Departemen Keuangan.
Maka pergerakan yield itu menjadi faktor penting dalam transaksi harga saham pekan ini di lantai bursa. Pekan ini pula, investor mengharapkan laporan mengenai indeks pasar perumahan selama bulan Juni dari National Association of Home Builders, yang akan dirilis awal pekan ini.
Selain itu Departemen Perniagaan AS akan menjabarkan laporan penjualan rumah selama Mei lalu. Pada Kamis esok lembaga survei The Conference Board akan mengungkapkan sejumlah perkembangan indikator utama.
Begitu pula dengan Departemen Tenaga Kerja AS yang akan mengungkapkan indeks harga produsen dan konsumen selama bulan Mei. Sementara itu Bank Sentral AS akan mengungkapkan laporan mengenai produksi di sektor industri. (AP)