VIVAnews - Indeks saham di sebagian besar bursa utama di Asia Pasifik bergerak naik setelah melihat data positif atas perkembangan ekonomi di Amerika Serikat (AS) dan China. Menurunnya jumlah warga AS yang mengajukan tunjangan pengangguran dan naiknya penjualan ritel di AS dan China Mei lalu membuat para investor kian optimistis bahwa tahap terburuk resesi global telah berlalu.
Di akhir perdagangan Jumat sore, 12 Juni 2009, indeks harga saham Nikkei 225 di Jepang naik 154,19 poin (1,6 persen) menjadi 10.135,82. Ini merupakan level tertinggi di bursa Tokyo dalam delapan bulan terakhir.
Begitu pula dengan indeks Hang Seng di Hong Kong, naik 15 poin (0,1 persen) menjadi 18.816,53. Sedangkan indeks saham di bursa Australia naik 0,4 persen menjadi 4.062,2. Kenaikan indeks juga melanda bursa di Korea Selatan, yaitu 0,7 persen menjadi 1.428,59.
Sayangnya, indeks saham di bursa China turun 2,1 persen menjadi 2.736,64. Rupanya para investor masih gelisah dengan perkembangan statistik perdagangan China yang di luar perkiraan. Padahal, hari ini muncul berita positif saat pemerintah mengungkapkan penjualan ritel dan output industri pada bulan Mei kian menguat di tengah besarnya pengeluaran stimulus pemerintah, kendati tingkat ekspor dan impor Mei lalu turun.
Namun, kalangan ekonom yakin bahwa fase terburuk di sektor perdagangan China telah lewat. Beijing selama ini berupaya melindungi ekonomi domestik dari efek menurunnya permintaan ekspor dengan menyuntikkan dana melalui belanja besar pada proyek-proyek konstruksi. Hasilnya berjalan efektif.
"China telah memiliki banyak keberhasilan dalam mendongkrak permintaan domestik dan itu berkat belanja pemerintah," kata Daniel McCormack, pengamat dari Macqueries Securities di Hong Kong. "China kini berupaya membelanjakan uang hingga tingkat permintaan eksternal kembali stabil," lanjut McCormack.
Dia menilai bahwa banyak dana investasi masuk ke kawasan Asia akibat adanya persepsi bahwa "Asia pada dasarnya stabil dan di situlah pertumbuhan perjalan." (AP)