Dunia
Budaya Arab Saudi

Akhirnya Boleh Nonton Film Bioskop di Riyadh

Namun, rekreasi itu masih belum berlaku untuk anak gadis maupun perempuan dewasa

Senin, 8 Juni 2009, 14:32 WIB
Renne R.A Kawilarang
Fayez al-Malki, aktor film 'Menahi,' berpose di depan poster film di Riyadh (AP Photo)

VIVAnews - Untuk kali pertama dalam tiga dekade terakhir, warga Arab Saudi di Ibukota Riyadh sejak Sabtu pekan lalu bisa menonton film di bioskop. Peristiwa itu ditandai dengan pemutaran film perdana produksi lokal, "Menahi."

Di depan gedung pusat kebudayaan, yang menjadi lokasi pemutaran Menahi, pria dewasa dan anak-anak - termasuk bocah perempuan berusia hingga sepuluh tahun - diperbolehkan masuk. Namun, rekreasi itu masih belum berlaku untuk anak gadis maupun perempuan dewasa. Itulah sebabnya para petugas memeriksa dengan seksama para penonton di pintu masuk.

Pemutaran perdana film bioskop itu disambut luar biasa oleh sebagian penduduk di Riyadh, apalagi film yang dipertontonkan bertipe komedi. Film itu mengisahkan seorang pria Bedouin yang kesulitan beradaptasi di kota Dubai, Uni Emirat Arab.  
 
Seperti kota-kota lain di Arab Saudi, Riyadh selama ini dianggap sebagai kota yang kering hiburan sejak pemerintah setempat melarang keberadaan gedung-gedung bioskop dan pertunjukan lebih dari tiga puluh tahun lampau. Pelarangan itu terkait dengan rekomendasi para ulama setempat bahwa kegiatan budaya seperti menonton film di bioskop dan pertunjukan di tempat terbuka sangat diharamkan karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam dan para penonton yang berlainan jenis kelamin dan bukan muhrim bisa berbaur di tempat itu.

Aturan itu kini diperlonggar. Namun, tampak gerombolan pemuda dari kelompok konservatif berkumpul di dekat pintu masuk gedung pemutaran film sambil menganjurkan warga agar tidak masuk. Seruan mereka pun tidak digubris.
    
"Senang sekali melihat para penonton begitu asyik menonton dan gembira," kata Misfir al-Sibai, pengusaha berumur 21 tahun yang juga ikut menonton film perdana itu. "Ini adalah malam yang menyenangkan," lanjut al-Sibai.

Kendati disambut meriah sebagian penduduk Riyadh, langkah perusahaan pembuat film Menahi - milik konglomerat Pangeran Alwaleed bin Talal - untuk menayangkan karya mereka di Riyadh dianggap sebagai langkah yang berani. Mereka tampak memanfaatkan momen keterbukaan dalam bidang budaya yang tampak sejak Arab Saudi diperintah Raja Abdullah pada 2005. Itulah sebabnya kini ada pengusaha yang berani berkecimpung di bisnis film. 

Namun, pemutaran film itu mendapat kecaman keras dari kalangan kelompok konservatif. Mereka mengeluarkan fatwa melarang pertunjukan budaya di Riyadh. Menurut mereka, AlWaleed dan perusahaan filmnya serta para pengusaha hiburan di Saudi sama bahayanya dengan pengedar narkotika. Pasalnya, para pengusaha itu memiliki sejumlah stasiun televisi yang menyiarkan film-film bioskop.

Peringatan dari para kaum fundamentalis itu tak menggoyahkan semangat Alwaleed. Berstatus kemenakan Raja Abdullah dan masuk dalam peringkat 13 daftar orang terkaya di dunia versi majalah Forbes, Alwaleed Februari lalu sudah berkata bahwa dia yakin suatu saat biskop akan tumbuh menjamur di Arab Saudi.  

Kendati tidak ada bioskop di kota mereka, warga Saudi bisa menyaksikan film bioskop teranyar dari perangkat video di rumah. Tidak sedikit diantara mereka yang membuat "bioskop mini" di rumah dengan mengundang teman dan kerabat nonton bersama. Kalaupun tindakan itu berisiko, mereka pun bisa terbang ke negara tetangga terdekat, Bahrain, untuk menonton film.

Sejumlah pria berjubah putih berupaya menghalangi pemutaran film di Riyadh

Sejumlah pria berjubah putih berupaya menghalangi pemutaran perdana film "Menahi" di Riyadh (AP Photo)

Menahi sebelumnya sudah ditayangkan di Jeddah, kota pelabuhan di Arab Saudi yang lebih terbuka dengan nilai-nilai Barat, dan Taif beberapa bulan lalu. Menurut perusahaan Rotana, yang memproduksi Menahi, film mereka sudah ditonton 25.000 orang, 9.000 diantaranya perempuan. 

Rotana mengungkapkan pemutaran Menahi di Riyadh tidak hanya sekali. Akan ada tiga pemutaran lagi dalam beberapa hari mendatang.

Namun, mereka masih dilarang membolehkan adanya perempuan, kecuali yang masih berusia di bawah 10 tahun. Pelarangan itu didukung oleh seorang penonton, Talal Saleh. "Masyarakat di sini masih konservatif sehingga tidak terbiasa berbaur," kata Saleh. "Perubahan kan hanya bisa dilakukan setahap demi setahap," lanjut pemuda berusia 25 tahun itu. (AP)

• VIVAnews
Rating
Komentar
alexbarkah
28/07/2009
Mereka Arab Saudi berhati2 dg hal yg dilarang oleh agama Islam.Tetapi tindakan keseharian mereka tidak Islami. Mudah2an dg adanya dobrakan2 pemerintah Saudi lebih cermat lagi yg mana bertentangan dan yg mana tidak dg Islam.
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ