VIVAnews - Mengikuti situasi di bursa Wall Street, New York, indeks harga saham di sejumlah bursa utama Asia turun pada akhir transaksi Kamis sore, 4 Juni 2009. Data ekonomi dari Amerika Serikat (AS) ternyata lebih buruk dari perkiraan, sehingga membuat investor melakukan aksi ambil untung dari penguatan saham belakangan ini.
Indeks Nikkei 225 melemah 72,71 poin (0,8 persen) ke posisi 9.668,96. Di Hong Kong, indeks Hang Seng berkurang 453,02 poin (2,4 persen) menjadi 18.123,45, dan indeks Kospi (Korea Selatan) 36,75 poin (2,6 persen) ke posisi 1.378,14.
Indeks acuan di Australia dan Taiwan melemah 2 persen. Sedangkan indeks Sensex (India) jatuh 1,4 persen ke posisi 14.663,05.
Dalam beberapa bulan terakhir, optimisme para investor mulai puluh. Namun mereka kini kecewa karena data sektor industri pelayanan dan manufaktur memburuk, di luar antisipasi investor.
Kabar ini membuat indeks harga saham di bursa Wall Street melemah kemarin, diikuti oleh indeks saham di Asia. Beberapa indikator saham melemah 2 persen atau lebih.
"Pasar mulai menuju ke fundamentalnya, ekonomi global sedang meningkat tetapi belum membaik. Namun saya masih melihat ini sebagai aksi ambil untung dan saya pikir masih bisa lebih menguat," kata Francis Lun dari Fulbright Securities, Hong Kong.
Harga minyak naik hingga di atas US$ 66 per barel di Asia. Harga minyak mentah untuk pengiriman Juli turun 3 sen ke posisi US$ 66,09 per barel. Kemarin, nilai kontrak anjlok US$ 2,43. (AP)