Dunia
Perdagangan Saham di Wall Street

Data Manufaktur Mengecewakan, Indeks Turun

Penurunan tidak sampai drastis karena investor melakukan bargain hunting di menit akhir

Kamis, 4 Juni 2009, 07:27 WIB
Renne R.A Kawilarang
Seorang pialang tertunduk lesu melihat turunnya harga saham (AP Photo/Richard Drew)

VIVAnews - Para investor di bursa Wall Street New York menghentikan reli (kenaikan panjang) harga selama empat hari berturut-turut dengan ramai-ramai melakukan aksi lepas saham. Ini terjadi setelah data tingkat industri jasa dan manufaktur di Amerika Serikat (AS) ternyata tidak memenuhi perkiraan.

Sebenarnya tingkat order di sektor manufaktur April lalu menunjukkan peningkatan, namun tidak sebesar yang diharapkan para investor. Menurut data Departemen Perdagangan AS, tingkat order manufaktur April lalu naik 0,7 persen. Namun kalangan pengamat sebelumnya sudah memproyeksi kenaikan sebesar 0,9 persen. 

Maka semua indeks harga saham pun turun di akhir perdagangan Rabu sore waktu setempat (Kamis dini hari WIB).

Indeks harga saham industri Dow Jones turun 65,63 poin (0,8 persen) ke level 8.675,24. Begitu pula dengan indeks Standard & Poor's 500, turun 12,98 poin (1,4 persen) ke posisi 931,76. Indeks harga saham teknologi Nasdaq pun setali tiga uang, turun 10,88 poin (0,6 persen) ke level 1825,92.

Menurut Ryan Larson, pialang senior di Voyageur Asset Management, mengungkapkan bahwa penurunan indeks tidak sampai drastis karena tidak sedikit investor yang kembali melakukan aksi beli atas sejumlah saham yang harganya rendah pada menit-menit akhir sebelum perdagangan ditutup. Taktik itulah yang disebut "bargain hunting" atau "buying the dips."

Alan Gayle, manajer investasi di Ridgeworth Capital Management mengaku dia mulai meningkatkan kepemilikan saham sejak Maret lalu saat melihat tanda-tanda bahwa data ekonomi AS "mulai tidak buruk." Namun, lanjut Gayle, level "tidak buruk" kini sudah tidak cukup untuk jadi patokan. 

Bahkan, Gubernur Bank Sentral (The Fed), Ben Bernanke, Rabu kemarin tidak lagi berkomentar mengenai optimisme dirinya atas tanda-tanda stabilisasi ekonomi, seperti yang berkali-kali dia ucapkan dalam beberapa bulan terakhir.

Saat rapat dengan para anggota Kongres, Bernanke kini malah menekankan pembicaraan kepada meningkatnya utang pemerintah. Menurut Bernanke, bila pemerintah kesulitan mengatasi utangnya, yang selama ini digunakan untuk membiayai program-program talangan (bail out), maka akan menyulitkan upaya pemulihan ekonomi. (AP)


• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ