Dunia

Kepingan di Atlantik Terbukti dari Air France

Juru bicara militer Prancis membenarkan hal itu.

Rabu, 3 Juni 2009, 18:19 WIB
Umi Kalsum, Shinta Eka Puspasari
Personil militer Prancis memantau lokasi jatuhnya pesawat Air France (AP Photo/ECPAD/French Defense Minister)

VIVAnews - Kapal Angkatan Laut Prancis dan Brasil bergegas menuju lokasi pecahan pesawat Air France yang menghilang dua hari lalu di Samudra Atlantik. Pesawat bernomor penerbangan AF 447 yang sedang dalam perjalanan menuju Paris dari Rio de Janeiro itu menghilang Minggu malam tanpa panggilan darurat.

"Materi kepingan itu terbukti berasal dari AF 447," kata juru bicara militer Prancis Christophe Prazuck di Brasil, Rabu (3/6) seperti dikutip harian New York Times.

Menteri Pertahanan Brasil Nelson Jobim membenarkan pendapat Prazuck. Kapal militer menemukan pecahan pesawat itu pada Selasa 2 Juni 2009 di tiga titik di Atlantik. Selain pecahan kapal, sebuah rompi pelampung oranye, kursi, drum, bensin, dan minyak juga ditemukan.

Koordinator regu penyelamat pemerintah Prancis Paul-Pouis Arslanian memperkirakan laporan awal mengenai kejadian ini akan selesai akhir Juni nanti. "Saat ini kami belum mengetahui apa pun, semua hanya spekulasi. Kami akan memberi informasi setelah seluruhnya dapat dipastikan," kaya dia dalam konferensi pers di bandar udara Le Bourget, Rabu 3 Juni 2009.

Arslanian mengatakan tim dari maskapai Air France, Airbus, pemerintah, dan para ahli terlibat dalam penyelidikan hilangnya pesawat ini. Para penyelidik berharap dapat segera menemukan ekor pesawat, tempat kotak hitam yang merekam percakapan dan data penerbangan pesawat dipasang.

Para investigator juga berharap dapat mememukan rekaman suara di kokpit. "Data penerbangan dalam kotak hitam menjelaskan pengoperasian pesawat, namun rekaman kokpit menunjukkan persepsi pilot mengenai apa yang terjadi," ujar penyelidik yang menolak disebut namanya.

Penyelidik ini mengatakan dugaan kapal jatuh karena sambaran petir tidak akan terekam dalam data penerbangan. "Namun kemungkinan besar akan terdokumentasikan dalam pengamatan pilot di kokpit," kata dia.

Petunjuk awal mengenai hilangnya pesawat ini terjadi empat jam sebelas menit setelah pesawat lepas landas dari Rio. Sepuluh laporan dari pesawat Airbus 330 tersebut menyatakan penerbangan mengalami kesulitan akibat badai dan masalah kelistrikan.

Airbus 330 merupakan pesawat yang diaktifkan dengan listrik. "Petir berkekuatan besar dapat menyebabkan malfungsi sistem pengendali elektronik," kata mantan kepala mekanik dan metalurgi di Kantor Aviasi Federal (FAA) Tom Swift.

Petir, turbulensi, atau masalah lain yang menyebabkan malfungsi sistem pengendali elektronik dapat membuat pilot mengalami kesulitan. Pesawat dapat memulai manuver tanpa perintah pilot.

Regu penyelidik juga akan menelusuri nota khusus kepada pemilik pesawat Airbus 330 dan 340 yang dikeluarkan Komisi Keselamatan Penerbangan Eropa tahun ini. Nota itu dikeluarkan setelah sejumlah pesawat mengalami masalah dalam sistem penerbangan elektroniknya.

Misalnya dalam penerbangan Qantas dari Singapura ke Perth, Australia, Oktober tahun lalu. Lebih dari 12 orang terluka saat pesawat mendadak kehilangan ketinggian. Sistem otomatis pesawat telah memberikan sejumlah informasi kepada pilot dan memperingatkan bahwa mesin pesawat akan mati.

Belum diketahui apakah maskapai Air France juga telah melaporkan masalah terkait pesawat Airbus 330 yang mereka operasikan.

Hingga saat ini, Air France belum merilis daftar penumpang. Namun mereka menyatakan dua warga Amerika Serikat, 61 warga Prancis, 58 warga Brasil, dan 26 warga Jerman berada dalam pesawat naas itu. Jobim berharap penemuan kepingan pesawat dapat memberi penjelasan mengenai kejadian tersebut kepada keluarga korban.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ