VIVAnews - Indeks harga saham di sejumlah bursa utama Asia menguat di akhir transaksi Rabu sore, 3 Juni 2009. Data dari Australia dan Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa ekonomi mulai pulih, tetapi konfirmasi pasti tentang pemulihan tersebut masih minim. Padahal, itulah yang diharapkan investor.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 menguat 42,80 poin (0,5 persen) ke posisi 9.748,27. Sedangkan indeks Hang Seng (Hong Kong) menguat 419,69 (2,3 persen) menjadi 18.808,77 karena optimisme bahwa pelemahan ekonomi di China akan mengalami rebound.
Indeks Kospi (Korea Selatan) naik 0,3 persen ke posisi 1.415,93. Indikator saham Australia menguat 1,3 persen, dan indeks saham China naik 1,1 persen. Sedangkan indeks saham di Taiwan melemah 1,1 persen.
Tingkat penjualan rumah di AS mencetak lonjakan terbesar dalam hampir delapan tahun terakhir pada April lalu. Sedangkan ekonomi Australia tanpa disangka tumbuh di triwulan pertama, naik 0,4 persen, karena paket pemulihan ekonomi dari pemerintah Australia menaikkan belanja konsumen.
Dengan kembalinya obligasi ke level rendah, uang mengalir ke saham-saham Asia dalam mengejar laba investasi lebih besar, sehingga membuat indeks-indeks utama naik 30 persen atau lebih sejak awal Maret. Namun bebarapa analis mengatakan, penguatan besar di bursa berada di luar jalur realitas.
Sementara itu harga minyak mentah naik di atas US$ 68 per barel, mendekati harga tinggi dalam tujuh bulan berturut-turut. Harga minyak untuk pengiriman Juli naik 8 sen menjadi US$ 68,61 per barel pada sore hari waktu Singapura dalam transaksi elektronik di New York Mercantile Exchange. (AP)