Dunia
Penembakan Brutal di AS

Dokter Spesialis Aborsi Tewas Ditembak

Dokter George Tiller telah melakukan praktik aborsi selama hampir 40 tahun

Senin, 1 Juni 2009, 08:41 WIB
Renne R.A Kawilarang, Harriska Farida Adiati
Seorang petugas membawa mayat Dr. George Tiller di Wichita, Kansas (AP Photo/Orlin Wagner)

VIVAnews - Dr. George Tiller, pemilik klinik aborsi di kota Wichita, Kansas, Amerika Serikat (AS), tewas ditembak di gereja tempat dia memberikan pelayanan, Minggu pagi waktu setempat, 31 Mei 2009. Pelaku melarikan diri, tetapi seorang pria 51 tahun ditangkap polisi sekitar 170 mil di pinggiran Kansas City, tiga jam setelah penembakan.

Juru bicara sherif Johnson County, Tom Erickson, mengidentifikasi pria itu sebagai Scott Roeder. Dia belum dikenai dakwaan pembunuhan tetapi kemungkinan akan dibawa ke Wichita untuk diinterogasi. Detektif polisi Wichita, Tom Stoltz, mengatakan, "Kami kira kami menangkap orang yang tepat."

Belum diketahui motif penembakan. Namun, kematian dokter tersebut merupakan kejadian terkini dari serangkaian penembakan dan pengeboman selama dua dekade terhadap klinik aborsi, dokter, dan staf mereka.

Tiller merupakan satu dari sedikit dokter di AS yang masih menjalankan praktik aborsi untuk kandungan usia lanjut. Pembunuhan yang terjadi pada pukul 10 pagi waktu setempat di Gereja Lutheran Reformasi ini terjadi sekitar 16 tahun setelah Tiller ditembak di luar kliniknya di Wichita. Polisi menemukan tubuh pria 67 tahun itu di serambi gereja.

Pembunuhan Tiller memunculkan kecaman dari para pendukung, dari mereka yang mencoba mengakhiri praktik aborsi itu dan juga dari Presiden Barack Obama yang dua pekan lalu baru saja mendesak warga AS untuk mencari landasan tentang isu aborsi. "Betapapun banyaknya perbedaan warga AS tentang isu-isu rumit seperti aborsi, tetapi itu tidak bisa diselesaikan dengan tindakan kejam," ungkap Obama dalam pernyataan yang dikeluarkan Gedung Putih.

Tiller telah melakukan praktik aborsi selama hampir 40 tahun, kata Peter Brownlie, presiden kantor Keluarga Berencana berbasis di Kansas City. Pasien-pasien Tiller hampir semua berada dalam situasi di mana ada kesalahan parah terkait kehamilan, dan di mana kesehatan perempuan yang sedang mengandung  itu terancam jika kehamilan dilanjutkan, kata Brownlie. (AP)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ