VIVAnews - Iran menjadi tuan rumah pertemuan tiga pihak dengan Pakistan dan Afghanistan, Minggu 24 Mei 2009. Tiga negara ini membicarakan kemungkinan kerja sama dalam menghadapi masalah-masalah regional.
Pakistan dan Afghanistan kini sedang berjuang mengatasi bangkitnya kelompok radikal Taliban. Presiden Afghanistan Hamid Karzai mengatakan pemberantasan ekstrimis merupakan tujuan utama pertemuan tiga pihak ini. Maka pertemuan di Teheran ini diharapkan dapat menggalang kerja sama tanpa bantuan Barat.
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) merupakan masalah utama tiga negara tersebut. "AS adalah benda asing yang tidak perlu ikut menyelesaikan masalah Iran, Pakistan, dan Afghanistan karena tidak memahami budaya setempat," kata Ahmadinejad seperti dimuat harian New York Times edisi Minggu, 24 Mei 2009.
Dalam kesempatan ini, Ahmadinejad, Karzai, dan presiden Pakistan Asif Ali Zardari menandatangani Perjanjian Teheran. Mereka berjanji akan bekerja sama memberangus kelompok ekstrimis dan menghentikan penyelundupan obat terlarang di daerah perbatasan.
Ahmadinejad mengaku optimistis bahwa pertemuan ini akan memperluas kerja sama dan menjamin keamanan di wilayah tiga negara. Iran merupakan musuh lama Taliban yang menguasai Afghanistan sebelum invasi AS.
Sebelumnya, Iran dan Pakistan juga memiliki perbedaan pendapat. Iran merupakan negara Muslim aliran Syiah sementara Pakistan merupakan negara Muslim aliran Sunni yang bersekutu dengan Arab Saudi.
Kebangkitan Taliban Afghanistan dan Pakistan mencari bantuan ke negara-negara sekutu, termasuk Iran. "Terlalu banyak masalah yang tidak dapat dianggap remeh dan harus diselesaikan di perbatasan kami bertiga," kata Zardari.