VIVAnews - Kalangan dokter dan aktivis pejuang hak asasi manusia (HAM) di Afganistan mencurigai penggunaan fosfor putih dalam konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Taliban, pekan lalu. Kekhawatiran dokter muncul akibat luka bakar yang tidak biasa yang diderita para korban di provinsi Farah.
Kepala unit luka bakar di Rumah Sakit Herat Dr. Mohammad Aref Jalali mengatakan luka bakar yang diderita pasiennya bukan luka biasa.
"Saya rasa ini akibat penggunaan bahan kimia dalam bom, namun saya belum pasti mengenai bahan kimia yang dipakai. Luka ini berbeda dengan luka yang timbul dalam kebakaran rumah akibat bensin atau ledakan gas," kata Jalali di Kabul, Minggu 10 Mei.
Tim dokter Afganistan mengaku sudah merawat 14 pasien dengan luka bakar yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Komisi HAM Independen Afghanistan dan pemerintah AS dan Afghanistan sedang menyelidiki kemungkinan penggunaan fosfor putih ini.
"Kami sudah menemui para korban dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab luka bakar tersebut," kata Nader Nadery, ketua Komisi HAM Afganistan.
Fosfor putih merupakan bahan kimia mudah terbakar yang dapat menyebabkan luka bakar kronis. Penggunaan bahan kimia ini untuk menerangi target atau membuat asap dan dianggap tidak bertentangan dengan hukum internasional.
Namun, para aktivis HAM menilai penggunaan fosfor putih di kawasan padat penduduk dapat melukai banyak warga sipil dan itu merupakan kejahatan perang.
Militer AS telah membantah tuduhan penggunaan fosfor putih dalam pertempuran yang menewaskan 125 hingga 139 warga sipil tersebut. Namun mereka menyatakan kelompok militan Taliban pernah menggunakan bahan kimia itu sebanyak empat kali tahun lalu.
Juru bicara militer AS di Afganistan, Kolonel Greg Julian, mengatakan AS tidak menggunakan fosfor putih dalam serangan ke Farah, Senin pekan lalu. "Kami menggunakan fosfor putih hanya sebagai sumber penerangan di malam hari," kata Julian.
Militer AS pernah menggunakan fosfor putih dalam perang Fallujah di Irak, November 2004. Bahan kimia yang sama digunakan Israel dalam konflik di Jalur Gaza awal tahun ini. (AP)