VIVAnews - Palang Merah Internasional (IRC) membenarkan penemuan puluhan jenazah di lokasi serangan udara Amerika Serikat (AS) di dua desa Afghanistan, Rabu (6/5). Sekitar 120 orang tewas dalam serangan yang terjadi di provinsi Farah, Senin (4/5).
Sebuah tim Komite IRC telah tiba di distrik Bala Baluk di Farah pada Selasa (5/6). "Kami melihat puluhan jenazah di dua tempat yang kami kunjungi, termasuk anak-anak dan perempuan," ujar juru bicara IRC Jessica Barry.
Gambaran pertama mengenai pengeboman di provinsi Farah muncul di Associated Press pada Rabu (6/5). Foto menunjukkan para penduduk sedang mengubur korban tewas sementara penduduk lain masih menggali di bawah reruntuhan.
Mantan kepala desa Bala Baluk Mohammad Nieem Qadderdan mengatakan sekitar seratus hingga 120 orang tewas dalam serangan itu. Qadderdan mengatakan warga masih berusaha menemukan mayat yang kerap tercerai-berai menjadi bagian kecil yang sulit dikenali.
"Kami butuh bantuan karena banyak keluarga yang telah meninggalkan Bala Buluk," ujar Qadderdan.
Presiden Hamid Karzai telah memerintahkan penyelidikan atas serangan ini. Karzai juga berjanji akan menjadikan hal ini sebagai fokus pembicaraannya dengan Presiden AS Barack Obama.
Sementara itu militer AS telah mengirim wakilnya untuk memimpin penyelidikan. "Tim penyelidik termasuk polisi dan militer Afghanistan," ujar juru bicara militer AS Kolonel Greg Julian.
Serangan Senin ini terjadi setelah pejuang Taliban, termasuk dari Iran dan Pakistan berparade di Farah. Kepala kepolisian daerah Abdul Ghafar mengatakan 25 militan dan tiga polisi tewas dekat desa Ganjabad di distrik Bala Baluk.
Warga mengatakan mereka telah mengungsikan anak-anak, perempuan, dan warga lanjut usia di desa Gerani. "Namun pesawat perang justru menargetkanarea itu dan menewaskan sebagian besar pengungsi," ujar anggota dewan provinsi Farah, Belqis Roshan.
Seorang pejabat militer AS di Kabul mengatakan tim khusus angkatan laut yang berada di bawah AS telah memerintahkan serangan udara tersebut. (AP)