VIVAnews - Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menegaskan, sulit untuk menyelesaikan persoalan sindikat perdagangan manusia yang marak akhir-akhir ini.
"Masih sulit karena terkadang mereka sengaja ingin diselundupkan dengan alasan ekonomi," kata Hassan di Bali, Rabu 16 April 2009.
Artinya, persoalan sindikat penyelundupan manusia ini sangat kompleks dan pembahasannya bukan sebatas negara bilateral.
"Kita harus mencari penyelesaian dengan mempelajari akar permasalahan," jelas Menlu sebelum membuka 3rd Bali Regional Ministerial Conference (BRMC) on people smuggling, trafficking in persons and related transnational crime di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Rabu, 15 April 2009.
Selain masalah ekonomi, ada persoalan yang menyangkut tekanan politik seperti situasi perang atau konflik seperti yang terjadi di Afganistan sehingga mereka mencari suaka.
Disinggung soal keberadaan warga Rohingya, Menlu menjelaskan bagaimana menghentikan dengan langkah nyata melakukan repatriasi (pengembalian ke negara asal). Dalam forum ini juga akan dibahas tapi tidak menjadi prioritas.
"Kalau sudah ditemukan motifnya, dan persoalan mereka adalah ekonomi secara sukarela bersedia untuk dipulangkan dengan diberikan pelatihan. Untuk pemulangan di kawasan Asia-Pasifik lebih mudah dibanding negara di Afrika dan Amerika Latin," jelas Menlu.
Forum ini, kata Hassan, Indonesia dan Australia sebagai co chair, yaitu memfasilitasi bukan untuk mengendalikan forum. Dengan cara ini nantinya akan banyak suara yang akan didengar dari beberapa negara anggota dan partisipasi lain.
BRMC atau yang dikenal dengan Bali Process merupakan kerangka penting yang telah berhasil membangun jaringan praktisi imigrasi dan penegak hukum di kawasan.
Laporan: Wima Saraswati | Bali