VIVAnews - Harga minyak mentah dunia turun mendekati US$ 49 per barel di Asia, Selasa 14 April 2009. Para pialang dan investor mencermati laporan perbankan pekan ini untuk mencari tanda apakah resesi parah yang tengah terjadi telah berakhir. Namun mereka masih pesimistis bahwa permintaan minyak mentah bisa meningkat dalam waktu dekat.
Harga minyak mentah untuk pengiriman Mei jatuh 78 sen menjadi US$ 49,27 per barel dalam perdagangan di New York Mercantile Exchange, Amerika Serikat (AS), seperti yang terpantau di Singapura. Kemarin, nilai kontrak jatuh US$ 2,19 menjadi US$ 50,05.
Harga minyak diperdagangkan mendekati US$ 50 per barel selama dua pekan terakhir setelah mengalami lonjakan dari harga di bawah US$ 35 pada Februari. Para pialang mulai antusias berkat tanda-tanda awal bahwa kondisi perbankan AS kemungkinan akan stabil. Goldman Sachs kemarin melaporkan bahwa bank investasi tersebut menerima laba US$ 1,66 miliar untuk triwulan pertama.
"Kami tidak merasa jatuh bebas lagi," kata Christoffer Moltke-Leth, kepala transaksi di Saxo Capital Markets, Singapura. "Namun kami lihat telah terjadi reli besar, sehingga kami tidak terkejut jika bursa saham dan minyak mengalami sedikit penurunan," katanya.
Pasar masih memikirkan pemangkasan prediksi oleh Badan Energi Internasional. Lembaga yang berpusat di Paris, Prancis, tersebut pada Jumat pekan lalu mengatakan bahwa permintaan energi global untuk tahun ini akan jatuh sebesar 2,4 juta barel per hari, sehingga menjadi 83,4 juta barel atau 2,8 persen lebih rendah daripada tahun lalu.
Di perdagangan Nymex lain, harga bensin untuk pengiriman Mei jatuh 0,65 sen menjadi US$ 1,39 per galon dan minyak heating turun 0,71 sen menjadi US$ 1,46 per galon. Harga gas alam untuk pengiriman Mei turun 2,0 sen menjadi US$ 3,61 per seribu kaki kubik. Harga minyak Brent jatuh 44 sen menjadi US$ 51,70 per barel di bursa ICE Futures, London, Inggris. (AP)