VIVAnews - Harga minyak mentah jatuh hingga mendekati US$ 50 per barel, Senin sorea 13 April 2009 waktu New York (Selasa dini hari). Penurunan terjadi saat indeks saham industri Dow Jones melemah sekitar 1 persen dalam tiga jam awal sesi perdagangan. Penyebabnya adalah pemangkasan prediksi permintaan minyak oleh Badan Energi Internasional (IEA).
Seperti dikutip dari laman stasiun televisi CNN, harga minyak mentah turun US$ 2,19 (4,2 persen) menjadi US$ 50,05/barel. Laporan dari IEA, Jumat pekan lalu mengatakan bahwa permintaan minyak global akan jatuh sebesar 2,4 juta barel per hari pada tahun ini. Laporan terpisah tentang inventaris minyak pada Rabu pekan lalu menunjukkan bahwa persediaan minyak Amerika Serikat (AS) mencapai level tertinggi sejak Juli 1993.
Ekuitas juga memberi tekanan pada harga minyak. Pasar minyak cenderung mengikuti reli saham akhir-akhir ini. Ini karena para investor minyak mencari pasar yang lebih luas untuk mencoba menaksir kapan permintaan bahan bakar akan naik.
Harga minyak menurun cepat dari harga tertinggi US$ 147,27 per barel pada tahun lalu. Penurunan terjadi karena konsumen mengurangi pemakaian energi di tengah tingkat pengangguran yang semakin meningkat dan ketidakpastian tentang kapan kondisi ekonomi AS akan membaik.
Sementara itu, harga bensin juga turun hingga menjadi US$ 2,051, turun dari harga sebelumnya US$ 2,052, menurut kelompok kendaraan bermotor AAA.