Dunia
Kaing Guek Eav, Kepala Penjara Khmer Merah

Mantan Guru Menjadi Monster

Duch merupakan pemimpin Khmer Merah pertama yang bisa diseret ke meja hijau

Senin, 30 Maret 2009, 16:37 WIB
Renne R.A Kawilarang, Shinta Eka Puspasari
Kaing Guek Eav (AP Photo/Mak Remissa, Pool)

VIVAnews - Setelah menunggu sekian tahun, Kamboja hari ini, Senin 30 Maret 2009, bisa menggelar sidang pertama pengadilan luar biasa atas kasus kejahatan kemanusiaan yang dilakukan rezim Khmer Merah 30 tahun lalu. Terdakwa adalah salah seorang pemimpin Khmer Merah, Kaing Guek Eav alias Duch (baca: Doik).

Duch didakwa melakukan kejahatan melawan kemanusiaan, kejahatan perang, penyiksaan, dan pembunuhan selama rezim Khmer Merah periode 1975-1979. Pasalnya, dia mengepalai penjara Khmer Merah bernama S-21 atau Tuol Sleng. Sebanyak 16.000 pria, perempuan, dan anak-anak disiksa hingga menemui ajalnya dalam penjara itu.

Duch merupakan pemimpin Khmer Merah pertama yang bisa diseret ke meja hijau. Dia juga satu-satunya pemimpin kelompok ultra-komunis yang menyesali perbuatannya.

Duch lahir 66 tahun lalu di tengah keluarga petani di desa Chayok, di provinsi Kampong Thom, sekitar 225 kilometer dari Phnom Penh. Seorang teman kecilnya mengingat Duch sebagai anak yang rajin belajar dan kurang suka bermain.

"Saya biasa memanggil dia si 'Kepala Besar' karena kepalanya terlihat besar di atas tubuh kurusnya, tapi dia tidak pernah marah," kata Ma Roun.

Kesadaran politik bintang matematika ini tumbuh di tengah ajaran keras guru-gurunya yang mengecam korupsi dan ketidakadilan sosial. Teman sekamar Duch saat menempuh pendidikan guru di asrama pagoda Buddha, Leam Sarun mengatakan Duch tidak pernah mengaku sebagai komunis.

"Biasanya Duch hanya mengatakan bahwa dia seorang patriot yang membenci korupsi dan penyiksaan kaum miskin oleh golongan kaya, namun saya mengenal doktrin komunis lewat ceramah-ceramahnya," kata Leam Sarun.

Leam mengenang Duch sebagai orang yang peduli dengan keadaan sesama. Dia selalu menjadi orang pertama yang memimpin pengumpulan dana untuk membantu orang lain.

Duch juga tidak pernah menolak membantu memecahkan soal-soal matematika. Dia mulai mengajar di sebuah SMP di Skoun, provinsi Kampong Cham, pada 1965.

Seorang muridnya, Channary Bill, mengatakan Duch kadang mengajar sambil membawa buku merah Mao Zedong. Duch juga kerap membagikan leaflet komunis sepulang sekolah untuk berbagi pandangan dengan murid-muridnya.

"Meski sejarah mencatat Duch sebagai monster, saya ingat dia adalah guru yang sangat lembut dan baik, dengan segala kebaikan yang mungkin ada dalam manusia," ujar Bill yang kini menetap di Cupertino, California.

Dua tahun setelah mengajar, Duch ikut bersembunyi bersama Khmer Merah. Dia terpaksa melakukan ini karena tiga muridnya ditahan dalam aksi unjuk rasa. Duch tertangkap pada Januari 1968 dan dihukum 20 tahun penjara.

Saat pemerintahan digulingkan pada 1970, Duch mendapat amnesti dan lari ke hutan dan bergabung dengan Khmer Merah yang berhasil menguasai Kamboja pada 1975. Dia diserahi tanggung jawab mengepalai penjara di Kompong Speu.

Para saksi mengatakan Duch sering turun tangan menyiksa, membakari, memukuli para tahanan dengan bambu, dan menenggelamkan mereka.

Dia lalu ditugaskan ke penjara utama Khmer Merah, S-21 atau Tuol Sleng di Phnom Penh. "Setiap tahanan di penjara itu akan berakhir dengan eksekusi, tugas Duch adalah memaksa tahanan mengaku dan mencari para tersangka pengkhianat," kata jaksa dalam dakwaannya.

Duch sendiri telah membantah tuduhan ini, namun jaksa menilai Duch secara konsisten mengakui tanggung jawabnya memerintahkan segala kejahatan yang terjadi di Tuol Sleng. Duch juga mencatat perlakuan terhadap masing-masing tahanan dalam dokumen yang ditemukan di penjara itu.

Duch menghilang setelah kejatuhan Khmer Merah pada 1979. Selama 20 tahun, nasibnya tidak diketahui hingga seorang wartawan Inggris, Nic Dunlop, menemukan dia di barat laut Kamboja.

Duch telah beralih ke agama Kristen dan bekerja dengan lembaga bantuan internasional yang tidak mengetahui latar belakangnya. "Dia hanya mengatakan, 'Tuhan, ampuni saya atas apa yang telah saya lakukan'," kata Christopher LaPel, pendeta Los Angeles yang membaptis Duch. (AP)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ