VIVAnews - Pemerintah berkomitmen menjaga investasi di sektor pertambangan agar tidak mengalami penurunan akibat krisis keuangan di Amerika Serikat. Sehingga, eksplorasi tambang baru tetap terus berjalan.
"Jika eksplorasi terhenti, produksi komoditas tambang empat tahun mendatang akan turun," ujar Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Simon Felix Sembiring, seperti dikutip dalam situs Departemen Energi di Jakarta, Sabtu 18 Oktober 2008.
Simon mengatakan, untuk melakukan ekspansi, perusahaan-perusahaan tambang biasanya memperoleh pendanaan dari bursa. Sebab, dana bursa termasuk dana murah dan mudah diperoleh. Sementara, jika bursa tertekan, perusahaan-perusahaan tersebut susah mendapat dana murah.
Oleh sebab itu, untuk mempercepat investasi, pemerintah segara menyelesaikan kegiatan-kegiatan sektor energi yang sampai saat ini tertunda, seperti PT Dairi Prima yang masih menunggu SK Presiden Tentang Penambangan Bawah tanah, PT Meares Soputan yang menimbulkan kesalahpahaman antara Departemen Energi dengan Gubernur Sulawesi Utara, serta PT Jogya Mining yang saat ini kontrak kerjanya masih dalam tahap penyelesaian pendapat fatwa hukum dari Menteri Hukum dan HAM.
Dalam sektor panas bumi, terdapat beberapa lokasi yang menunggu peningkatan status dari penyelidikan pendahuluan ke eksplorasi. "Dengan catatan harga patokan listrik dapat direvisi, seperti harga patokan listrik di Sumatera Selatan disamakan dengan wilayah Sumatera lainnya," ujar Simon.