VIVAnews - Amerika Serikat (AS) dan China bisa bersama-sama memimpin upaya memulihkan dunia dari krisis keuangan. AS pun menghargai kepercayaan China yang tetap menyimpan obligasi (surat utang) pemerintah AS di tengah krisis saat ini.
Demikian ungkap Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, di Beijing. "Kami punya alasan untuk percaya bahwa Amerika Serikat dan China akan pulih dan bersama-sama membantu memimpin pemulihan dunia [dari krisis keuangan]," kata Hillary saat jumpa pers dengan Menteri Luar Negeri China, Yang Jiechi, Sabtu 21 Februari 2009.
Memiliki cadangan devisa sekitar US$2 triliun, China merupakan penyimpan terbesar obligasi pemerintah AS. "Saya sangat menghargai kepercayaan yang terus diperlihatkan pemerintah China atas obligasi Amerika Serikat. Saya pikir itu adalah kepercayaan yang kokoh," lanjut Hillary.
China mempertaruhkan sebagian cadangan devisa dengan investasi berskala besar dalam bentuk utang cair (liquid debt), yaitu dengan membeli obligasi pemerintah AS. Namun, di tengah krisis keuangan saat ini, china waspada atas risiko besar yang dihadapi setelah menderita kerugian besar dalam investasi di sejumlah perusahaan Amerika, seperti Blackstone dan Morgan Stanley.
"Memang benar bahwa China telah menggunakan sebagian cadangan devisa untuk membeli obligasi pemerintah AS. Kami ingin menjamin keamanan dari devisa itu, begitu pula dengan nilai dan likuiditas cadangan valuta asing," kata Yang.
China merupakan tujuan terakhir Hillary dalam melakukan kunjungan internasional pertama sebagai menteri luar negeri. Dia telah mengunjungi tiga negara lain di Asia, yaitu Jepang, Indonesia, dan Korea Selatan.